Dari Pintu Tarekat Islam Berkibar

Langkah setengah juta pasang kaki mengepulkan debu di sepanjang jalan menuju Touba, yang berjarak 170 kilometer dari Dakar, ibukota Sinegal. Matahari sangat terik, dalam cuaca 42 derajat celcius. Di tengah rombongan, sejumlah lelaki berjubah koyak-moyak mengusung gada besar di pundak. Sekujur tubuh Mahmadou, mantan pesepakbola nasional, juga bermandi berkeringat. Telapak kakinya, seperti telapak kaki lainnya, berdarah-darah usai menempuh perjalanan puluhan kilometer. Mahmadou, dan beberapa lekaki lain dengan pakaian serupa, kemudian memukulkan gada ke punggung, tangan dan kaki dengan keras. Kenapa? “Demi surga dan marabout saya,” kata Mahmadou sambil berusaha tetap tersenyum.
Begitulah cara pengikut Bay Fall, salah satu aliran tarikat Muridiyah, mengekspresikan cinta kepada marabout (guru spiritual) mereka. Hari itu adalah haul kematian Syekh Amadou Bamba M’backe (1850-1927), yang mendirikan tarikat Muridiyah seabad lalu. Amadou Bamba, atau Ahmad bin Muhammad bin Habibullah, dan sering dijuluki Khadim ar-Rasul (pelayan Rasulullah), dimakamkan di Touba, dalam kompleks masjid yang sangat megah. Di sinilah bermarkas tarekat Muridiyah, yang pengikutnya menyebar hingga ke beberapa negara bagian Amerika Serikat.
Islam di Sinegal memang berwajah khas, dengan tradisi tarekat dan sufisme yang sangat kental, yang dalam prakteknya kerap beraroma sinkretik bersama “kearifan” lokal. Spiritualitas pemeluknya tumbuh dalam persaudaraan sufisme, yang sangat menghormati marabout. Guru spiritual inilah “wasilah” para pemeluk Islam dengan urusan kehidupan ukhrawi. Dan pada akhirnya, untuk urusan politik, ekonomi dan sosial pun, marabout lebih populer ketimbang para pemimpin formal. Marabout juga kerap mempengaruhi para pengikutnya untuk menyalurkan aspirasi politik ke partai tertentu.
Jangan heran jika berkunjung ke Sinegal, Anda menyaksikan foto atau kaligrafi ucapan marabout menghiasi dinding rumah, kantor, dan bahkan kendaraan umum. Saat pesta kemenangan tim Sinegal atas lawan-lawannya di Piala Dunia, misalnya, foto para marabout bertabur dalam warna hijau, merah dan emas – kostum Sinegal, di jalan raya. Untuk mengekspresikan ketaatan, banyak pula pengikut tarikat, utamanya dari aliran Bay Fall, yang mengabdikan diri dengan menggarap lahan keluarga guru spiritual mereka.
Adaptasi Islam Afrika
Pendekatan sufistik dalam penyebaran Islam nyatanya sangat efektif. Melalui tiga aliran besar tarekat — Muridiyah, Tijaniyah dan Qadiriyah, Islam kini dipeluk hampir 95 persen dari sepuluh juta penduduk Sinegal. Padahal, pada awal abad ke-20, pemeluk Islam tak mencapai setengah dari penduduk negeri kawasan Afrika Barat ini – sebagian besar mereka beragama Kristen, animis dan ada segelintir Yahudi. Para pengamat pun mengakui, tarekat dan sufisme merupakan adaptasi Islam model Afrika Barat yang paling jitu untuk menangkal serangan gencar para missionaris Kristen di kawasan ini.
Islam masuk ke Sinegal sebelum abad ke-11, dan berkembang terutama setelah kerajaan Tukulor (kerajaan kecil di Sinegal) menerimanya sebagai agama negara. Mereka diislamkan oleh kelompok al-Murabithun dan pengikut tarekat Tijaniah. Gerakan Murabithun – dari kata ini kemudian muncul istilah marabout, kemudian menjadi sebuah dinasti yang memerintah hingga tahun 1147, berpusat di Marakesh, sebuah kota di Maroko.
Dalam perkembangannya, ketiga aliran tarekat (Tijaniyah, Qadiriyah dan Muridiyah), sangat berperan mengislamkan penduduk Sinegal dan kawasan sekitarnya. Ketiganya juga berperan dalam perjuangan rakyat Sinegal menghadapi koloni Portugis, Inggris, Belanda dan kemudian Perancis.
Tarekat Qadiriyah lahir di Bagdad, dan berkembang di Afrika melalui Mauritania. Tijaniyah didirikan Abu Abbas Ahmad bin Muhammad bin Mukhtar bin Salim at-Tijani, di Maroko, dan dibawa ke Sinegal oleh El Hadji Omar Tall pada abad ke-19. Sedangkan Muridiyah didirikan Amadou Bamba M’backe pada akhir abad ke-19. Pada awalnya M’backe adalah penganut tarekat Qadiriyah, yang lebih menyukai hidup asketis, meditasi, sambil mengajarkan Al-Qur’an, ketimbang berhadapan dengan kaum kolonial. Terhadap kaum animis, sikap M’backe juga lebih toleran ketimbang para marabout dari tarekat Tijaniyah.
Sikapnya yang asketis justru membuat pengaruh M’backe kian menonjol di tengah warganya. Inilah yang mengkhawatirkan kolonial Perancis. M’backe akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Gabon (1895-1902), lalu Mauritania (1903-1907). Meskipun diasingkan, sosok M’backe tak pernah lekang dari pengikutnya, dan malah menyuburkan mitos seputar keistimewaannya.
Dikisahkan, misalnya, ketika tentara Perancis tak mengijinkannya shalat di atas kapal, borgol di tangan M’backe tiba-tiba lepas, dan ia loncat ke air lalu mengerjakan shalat di atasnya. Di kali lain, M’backe tak merasa sakit saat dimasukkan ke atas perapian, dan malah duduk tertawa sambil minum. Bahkan ketika dimasukkan ke kandang singa yang lapar, M’backe santai saja dan singa pun tertidur pulas.
Menyadari betapa kian tumbuh fanatisme pengikut M’backe, kolonial Perancis akhirnya mengubah sikap, dan menjadikannya sebagai asset, bukan lagi rintangan. M’backe dipulangkan, dan diijinkan membangun kota suci di Touba, markas tarekat Muridiyah. Sebagai imbalan, M’backe mengikrarkan persahabatan dengan Perancis. Tahun 1918 ia menerima bintang penghargaan dari pemerintah Perancis, atas jasanya membiarkan ratusan pengikutnya membela Perancis dalam Perang Dunia I. Tapi tetap saja, setelah M’backe wafat, para pengikutnya kembali melancarkan perlawanan terhadap pemerintah kolonial, hingga negeri ini mendapat kemerdekaannya pada 1960.
Kini, pengikut tarekat Muridiyah mencapai 40 hingga 45 persen penduduk muslim Sinegal, dan kebanyakan mereka adalah kaum muda belasan tahun. Sekitar 30 persen menganut tarekat Tijaniyah, dan sisanya berpencar dalam tarekat Qadiriyah dan beberapa sekte tarekat kecil, yang lebih konservatif.
Di negara yang didominasi partai sosialias ini, wajarlah jika kaum muda menyukai tarekat Muridiyah yang lebih terorganisir dan berdisiplin, baik dalam mobilisasi politik maupun kewirausahaan. Kini, jaringan sosial dan keagamaan Muridiyah telah mendunia. Juga jaringan ekonominya, telah menyentuh pasar komersial internasional. “Jaring laba-laba” mereka mampu mengontrol perdagangan Sinegal. Sektor informal di bawah bendera Sandaga, juga menguasai seluruh jaringan supermarket dan toko-toko kelontong sepanjang jalan raya Dakar.
Menara yang menjulang tinggi di masjid jami Touba, seperti mengisyaratkan cita-cita mereka untuk menjunjung satu dunia (bawol), satu ideologi dan sumber inspirasi: ajaran Muridyah, nilai sentral yang darinya memancar etos kerja, disiplin, sukses, dan ketaatan yang mutlak kepada marabout. Wallahu a’lam.
