PEDULI TERHADAP SESAMA
Dulu, ada seorang pedagang yang ingin melaksanakan ibadah haji ke tanah suci Makkah, setibanya di Makkah, ia segera menitipkan semua barang bawaannya yang berharga kepada seorang syekh yang dikenal sebagai ahli ibadah dan sangat terpercaya menjaga amanat. Sengaja memang ia titipkan agar ia lebih terkonsentrasi lagi di dalam melakukan ibadah.
Setelah lewat sebulan, dan pelaksanaan ibadah hajipun sudah selesai, maka si pedagang itupun kembali untuk menemui syekhnya untuk mengambil kembali barang titipannya. Tapi setibanya di sana ia mendapat kabar bahwa syekhnya telah meninggal dunia seminggu yang lalu, dan tidak ada seorangpun dari keluarganya yang mengetahui di mana syekh itu menyimpan barang titipannya. Maka dalam keadaan bingung itulah, si pedagang segera mendatangi salah seorang ulama di sana untuk meminta petunjuk. Si ulama berpesan :”Coba datangilah sumur zamzam nanti malam, karena sumur itu menjadi pintu penghubung antara alam dunia dengan alam barzakh. Panggillah nama syekh itu 3 kali, jika ia termasuk hamba Allah yang baik, maka pasti ia akan menjawab panggilanmu”.
Malam harinya si pedagangpun segera mendatangi tepian sumur zamzam dan berteriak-teriak memanggil nama syekhnya, tapi hampir menjelang pagi panggilannya tetap saja tidak mendapatkan jawaban. Dengan hati kecewa si pedagang kembali mendatangi si ulama dan menceritakan semua kegagalannya.
Mendengar semua itu si ulama terkejut :”Kalau begitu syekhmu termasuk orang-orang yang celaka. Coba kamu pergi ke Yaman, carilah sebuah sumur yang bernama Barohut, karena Imam at-Thobrony meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat Abdulloh bin Abbas ra, bahwa Rosulullah SAW bersabda :
خَيْرُ بِئْرٍ عَلَى وَجْهِ اْلأَرْضِ بِئْرُ زَمْزَمَ. فِيْهِ طَعَامٌ مِنَ الطَّعْمِ وَشِفَاءٌ مِنَ السَّقَمِ. وَشَرُّ بِئْرٍ عَلَى وَجْهِ اْلأَرْضِ بِئْرٌ بِوَادِي بَرَهُوْتَ بِقُبَّةِ حَضْرَمَوْتَ.
“Sumur yang terbaik di muka bumi ini adalah sumur zamzam, airnya dapat dijadikan sebagai makanan dari berbagai macam makanan dan menjadi obat dari berbagai macam penyakit. Sedangkan sumur yang terburuk di muka bumi ini adalah sumur di lembah Barohut yang terletak di wilayah Hadhromaut”.
Sumur itu juga menjadi pintu penghubung antara alam dunia dengan alam barzakh. Panggillah nama syekh itu 3 kali, jika ia termasuk hamba Allah yang durhaka, maka pasti ia akan menjawab panggilanmu”.
Si pedagangpun berangkat ke negeri Yaman untuk mencari lembah Barohut, dan di atas tepian sumur itu ia berteriak-teriak memanggil nama syekhnya. Tiba-tiba dari dalam sumur terdengar suara jawaban. Maka si pedagangpun bertanya :”Bagaimana mungkin tuan berada di tempat yang hina ini, bukankah tuan seorang ahli ibadah dan sangat terpercaya dalam menjaga amanat ?”
Suara dari dalam sumur itu menjawab :”Benar, Tapi saya masih mempunyai seorang adik perempuan yang hidupnya dalam kemiskinan. Ia tinggal jauh dipinggiran desa, sedangkan saya terlalu sibuk memikirkan diri saya sendiri, sehingga kehidupan saudara saya menjadi terlantar. Jika engkau menjumpainya nanti, tolong sampaikan permintaan ma`af dari saya kepadanya. Dan berikanlah sebagian harta warisan saya untuknya, mudah-mudahan ia mau mema`afkan kesalahan kakaknya ini”.
Si pedagang berjanji :”Ya, pasti semua akan saya sampaikan, tapi dimana tuan menyimpan semua barang yang saya titipkan ?”.
Suara itu menjawab :”Barang itu saya simpan di dalam lubang di dalam kamar saya. Bongkar saja, semua barang titipan mu ada di dalamnya”.
Si pedagang segera kembali ke Mekkah, dan setelah barang titipannya ia dapatkan, ia pun menemui saudara perempuan syekh yang tinggal di desa dan menyampaikan permoho nan ma`af darinya. Mendengar cerita itu adiknya menangis dan bersedia mema`afkan kesa lahan kakaknya. Malam harinya si pedagang mencoba datangi lagi tepian sumur zamzam dan berte riak-teriak memanggil nama syekhnya. Dan tiba-tiba dari dalam sumur terdengar suara jawaban dari syekhnya yang bersyukur dan berterima kasih kepadanya.
Kisah ini ditulis oleh Imam adz-Dzahaby di dalam kitabnya yang berjudul al-Kabaair pada halaman 35.
Allah SWT menciptakan manusia di muka bumi ini dalam kehidupan yang berbeda-beda. Ada yang kaya ada juga yang miskin. Ada yang berilmu ada pula yang jahil. Ada yang berun tung, tapi tidak sedikit dari mereka yang kurang beruntung.
Berlain-lainannya kehidupan manusia itu sengaja diatur oleh Allah SWTagar mereka dapat saling membantu. Yang kaya dapat mengayomi saudaranya yang miskin. Yang berilmu dapat membimbing saudaranya yang jahil. Dan yang beruntung dapat membagi sedikit keuntungan kepada saudaranya yang kurang beruntung.
Dan begitu pula sebaliknya. Si kaya tidak akan dapat me nyedekahkan hartanya bila tidak ada orang miskin. Si alim juga tidak akan dapat mengajarkan ilmunya bila tidak ada orang bo doh. Dan yang beruntung tidak akan dapat berbuat kebaikan bila tidak ada saudaranya yang kurang beruntung.
Jadi, kehidupan dunia ini sengaja dibuat seperti ini agar kta dapat menjadikan kehidupan dunia ini sebagai sarana untuk berbuat amal kebaikan yang sebanyak-banyaknya sebagai bekal untuk kehidupan di negeri akhirat.
اَلَّذِيْ خَلَقَ اْلـمَوْتَ وَاْلـحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً
Dialah Allah yang telah menciptakan kehidupan dan kematian, agar Dia dapat menguji kamu siapa diantara kamu yang paling baik amalnya
Bulan Romadhon telah banyak menganugerahkan kepa da kita berjuta hikmah yang sangat berharga. Bulan Romadhon telah banyak menyumbangkan kepada kita kekayaan rohani yang sangat mahal nilainya.
Coba kita perhatikan!!
Berkumpulnya kita di masjid selama satu bulan untuk me laksanakan sholat sunat taraweh, minimal telah menanamkan di dalam hati kita semangat kebersamaan dan persatuan. Bendera partai boleh berbeda, beragam suku boleh tak sama, tapi persa tuan dan persaudaraan umat Islam harus tetap lebih kita utama kan dari segalanya.
Atau bangunnya kita menjelang pagi untuk bersantap sa hur, minimal telah melatih diri kita untuk terbiasa bangun sebe lum subuh, untuk bertahajjud, membuka kontak saluran kalbu de ngan Allah, berzikir, bertafakkur, kemudian menghirup barokah yang telah Allah tuangkan di waktu pagi, seperti yang telah di isyaratkan oleh nabi dalam sebuah sabdanya :
تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِى السَّحُوْرِ بَرَكَــةٌ
“Bangunlah di waktu sahur ! karena pada waktu
sahur itu, Allah tengah menebarkan barokahnya
di dalam kehidupanmu“
Atau berpuasanya kita selama satu bulan, menahan diri untuk tidak makan, menahan diri untuk tidak minum walaupun makanan dan minuman tetap tersedia, minimal telah mendidik jiwa ini untuk ikut merasakan penderitaan orang-orang miskin. Orang-orang miskin yang keseharian mereka sangat akrab de ngan kelaparan, orang-orang miskin yang kesehariannya harus bekerja keras untuk sekedar menyambung hidup.
Karena sangat tidak mungkin untuk memberikan penjelas an tentang masalah orang-orang miskin hanya lewat sebuah pe nataran, lalu dibacakan sebuah makalah tentang kehidupan me reka yang sering kelaparan, sedangkan yang ngomong dan yang hadir orang-orang kenyang semua. Jelas hal ini tidak akan dapatmereka pahami.
Tapi Islam, satu-satunya agama yang telah Allah akui ke benarannya di dalam al-Qur`an, telah mengajarkan kepada peng anutnya untuk ikut serta merasakan lapar dan haus selama satu bulan. Ajarannya bukan hanya sekedar basa basi, tapi justru me nyentuh perasaan hati dari orang-orang yang mengamalkannya. Seolah-olah Allah berkata kepada kita : “Coba kalian rasakan la par dan haus, enak atau engga ? Kalo gak enak, tapi rasa lapar dan haus mu itukan cuma sebentar. Coba lihat orang-orang mis kin di sekitarmu, mereka terus merasakan lapar dan haus tanpa harus tahu kapan mereka dapat merubah hidup untuk mendapat kan kehidupan yang lebih baik”.
Islam, dengan konsep puasa dan zakatnya telah berhasil menyentuh perasaan hati kita yang paling dalam untuk tidak me mikirkan nasib sendiri saja, tapi mau melihat, mau memperhati kan orang-orang di sekitarnya yang mungkin sangat membutuh kan perhatian dari kita saudaranya.
Bukankah konsep ajaran Islam itu selalu menyentuh 2 sisi yang saling berpasangan ? sisi vertical dan sisi horizontal. Atau dalam bahasa agama biasa kita sebut dengan hablum minalloh dan hablum minannaas, menjalin hubungan yang baik dengan Allah dan hubungan yang baik dengan sesama manusia.
Di dalam al-Qur`an pun selalu ada 2 pesan yang saling berpasa ngan, yaitu:
أَقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَآتوا الزّكـَـَاةَ
“Dirikanlah sholat untuk mendekatkan hubunganmu dengan Allah, tapi jangan lupa bayarlah zakat untuk menunjukkan rasa kepedulianmu terhadap sesama”
Artinya, jangan biarkan diri ini selalu sibuk berzikir, sibuk mengerjakan sholat, sibuk membaca al-Qur`an, tapi ada orang-orang di sekitar kita yang sangat membutuhkan kehadiran kita, ada orang-orang di sekitar kita yang sangat membutuhkan keikut sertaan kita dalam kehidupan mereka.
Dan begitu pula sebaliknya, jangan habiskan umur ini ha nya untuk bergaul yang tidak berguna, ngobrol dari pagi sampai sore, mencari dunia mengumpulkan harta, tapi ada kewajiban da lam kehidupan kita untuk coba mendekati Allah, ada kewajiban kita dalam hidup ini untuk mengingat Allah di dalam sholat, berzi kir bertafakkur dan berdo`a, agar jiwa ini menjadi lebih tenang dan stabil. Jika kedua konsep ini ada dalam kehidupan kita, ma ka kita termasuk orang-orang yang berbahagia, baik dalam kehi dupan dunia maupun dalam kehidupan di negeri akhirat nanti.