Bank I2R

BWT SAPA ZA DEH YANK PONYA NIAT BAEK

Archive for the ‘TENTANG THORIQOH’


Dari Pintu Tarekat Islam Berkibar

Pola adaptasi para guru spiritual terhadap nilai-nilai kearifan lokal, sangan efektif dalam menyebarkan Islam, dan membungkam laju Kristenisasi. Tapi ada saja yang menilainya sinkretik.


Langkah setengah juta pasang kaki mengepulkan debu di sepanjang jalan menuju Touba, yang berjarak 170 kilometer dari Dakar, ibukota Sinegal. Matahari sangat terik, dalam cuaca 42 derajat celcius. Di tengah rombongan, sejumlah lelaki berjubah koyak-moyak mengusung gada besar di pundak. Sekujur tubuh Mahmadou, mantan pesepakbola nasional, juga bermandi berkeringat. Telapak kakinya, seperti telapak kaki lainnya, berdarah-darah usai menempuh perjalanan puluhan kilometer. Mahmadou, dan beberapa lekaki lain dengan pakaian serupa, kemudian memukulkan gada ke punggung, tangan dan kaki dengan keras. Kenapa? “Demi surga dan marabout saya,” kata Mahmadou sambil berusaha tetap tersenyum.

Begitulah cara pengikut Bay Fall, salah satu aliran tarikat Muridiyah, mengekspresikan cinta kepada marabout (guru spiritual) mereka. Hari itu adalah haul kematian Syekh Amadou Bamba M’backe (1850-1927), yang mendirikan tarikat Muridiyah seabad lalu. Amadou Bamba, atau Ahmad bin Muhammad bin Habibullah, dan sering dijuluki Khadim ar-Rasul (pelayan Rasulullah), dimakamkan di Touba, dalam kompleks masjid yang sangat megah. Di sinilah bermarkas tarekat Muridiyah, yang pengikutnya menyebar hingga ke beberapa negara bagian Amerika Serikat.

Islam di Sinegal memang berwajah khas, dengan tradisi tarekat dan sufisme yang sangat kental, yang dalam prakteknya kerap beraroma sinkretik bersama “kearifan” lokal. Spiritualitas pemeluknya tumbuh dalam persaudaraan sufisme, yang sangat menghormati marabout. Guru spiritual inilah “wasilah” para pemeluk Islam dengan urusan kehidupan ukhrawi. Dan pada akhirnya, untuk urusan politik, ekonomi dan sosial pun, marabout lebih populer ketimbang para pemimpin formal. Marabout juga kerap mempengaruhi para pengikutnya untuk menyalurkan aspirasi politik ke partai tertentu.

Jangan heran jika berkunjung ke Sinegal, Anda menyaksikan foto atau kaligrafi ucapan marabout menghiasi dinding rumah, kantor, dan bahkan kendaraan umum. Saat pesta kemenangan tim Sinegal atas lawan-lawannya di Piala Dunia, misalnya, foto para marabout bertabur dalam warna hijau, merah dan emas – kostum Sinegal, di jalan raya. Untuk mengekspresikan ketaatan, banyak pula pengikut tarikat, utamanya dari aliran Bay Fall, yang mengabdikan diri dengan menggarap lahan keluarga guru spiritual mereka.

Adaptasi Islam Afrika

Pendekatan sufistik dalam penyebaran Islam nyatanya sangat efektif. Melalui tiga aliran besar tarekat — Muridiyah, Tijaniyah dan Qadiriyah, Islam kini dipeluk hampir 95 persen dari sepuluh juta penduduk Sinegal. Padahal, pada awal abad ke-20, pemeluk Islam tak mencapai setengah dari penduduk negeri kawasan Afrika Barat ini – sebagian besar mereka beragama Kristen, animis dan ada segelintir Yahudi. Para pengamat pun mengakui, tarekat dan sufisme merupakan adaptasi Islam model Afrika Barat yang paling jitu untuk menangkal serangan gencar para missionaris Kristen di kawasan ini.

Islam masuk ke Sinegal sebelum abad ke-11, dan berkembang terutama setelah kerajaan Tukulor (kerajaan kecil di Sinegal) menerimanya sebagai agama negara. Mereka diislamkan oleh kelompok al-Murabithun dan pengikut tarekat Tijaniah. Gerakan Murabithun – dari kata ini kemudian muncul istilah marabout, kemudian menjadi sebuah dinasti yang memerintah hingga tahun 1147, berpusat di Marakesh, sebuah kota di Maroko.

Dalam perkembangannya, ketiga aliran tarekat (Tijaniyah, Qadiriyah dan Muridiyah), sangat berperan mengislamkan penduduk Sinegal dan kawasan sekitarnya. Ketiganya juga berperan dalam perjuangan rakyat Sinegal menghadapi koloni Portugis, Inggris, Belanda dan kemudian Perancis.

Tarekat Qadiriyah lahir di Bagdad, dan berkembang di Afrika melalui Mauritania. Tijaniyah didirikan Abu Abbas Ahmad bin Muhammad bin Mukhtar bin Salim at-Tijani, di Maroko, dan dibawa ke Sinegal oleh El Hadji Omar Tall pada abad ke-19. Sedangkan Muridiyah didirikan Amadou Bamba M’backe pada akhir abad ke-19. Pada awalnya M’backe adalah penganut tarekat Qadiriyah, yang lebih menyukai hidup asketis, meditasi, sambil mengajarkan Al-Qur’an, ketimbang berhadapan dengan kaum kolonial. Terhadap kaum animis, sikap M’backe juga lebih toleran ketimbang para marabout dari tarekat Tijaniyah.

Sikapnya yang asketis justru membuat pengaruh M’backe kian menonjol di tengah warganya. Inilah yang mengkhawatirkan kolonial Perancis. M’backe akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Gabon (1895-1902), lalu Mauritania (1903-1907). Meskipun diasingkan, sosok M’backe tak pernah lekang dari pengikutnya, dan malah menyuburkan mitos seputar keistimewaannya.

Dikisahkan, misalnya, ketika tentara Perancis tak mengijinkannya shalat di atas kapal, borgol di tangan M’backe tiba-tiba lepas, dan ia loncat ke air lalu mengerjakan shalat di atasnya. Di kali lain, M’backe tak merasa sakit saat dimasukkan ke atas perapian, dan malah duduk tertawa sambil minum. Bahkan ketika dimasukkan ke kandang singa yang lapar, M’backe santai saja dan singa pun tertidur pulas.

Menyadari betapa kian tumbuh fanatisme pengikut M’backe, kolonial Perancis akhirnya mengubah sikap, dan menjadikannya sebagai asset, bukan lagi rintangan. M’backe dipulangkan, dan diijinkan membangun kota suci di Touba, markas tarekat Muridiyah. Sebagai imbalan, M’backe mengikrarkan persahabatan dengan Perancis. Tahun 1918 ia menerima bintang penghargaan dari pemerintah Perancis, atas jasanya membiarkan ratusan pengikutnya membela Perancis dalam Perang Dunia I. Tapi tetap saja, setelah M’backe wafat, para pengikutnya kembali melancarkan perlawanan terhadap pemerintah kolonial, hingga negeri ini mendapat kemerdekaannya pada 1960.

Kini, pengikut tarekat Muridiyah mencapai 40 hingga 45 persen penduduk muslim Sinegal, dan kebanyakan mereka adalah kaum muda belasan tahun. Sekitar 30 persen menganut tarekat Tijaniyah, dan sisanya berpencar dalam tarekat Qadiriyah dan beberapa sekte tarekat kecil, yang lebih konservatif.

Di negara yang didominasi partai sosialias ini, wajarlah jika kaum muda menyukai tarekat Muridiyah yang lebih terorganisir dan berdisiplin, baik dalam mobilisasi politik maupun kewirausahaan. Kini, jaringan sosial dan keagamaan Muridiyah telah mendunia. Juga jaringan ekonominya, telah menyentuh pasar komersial internasional. “Jaring laba-laba” mereka mampu mengontrol perdagangan Sinegal. Sektor informal di bawah bendera Sandaga, juga menguasai seluruh jaringan supermarket dan toko-toko kelontong sepanjang jalan raya Dakar.
Menara yang menjulang tinggi di masjid jami Touba, seperti mengisyaratkan cita-cita mereka untuk menjunjung satu dunia (bawol), satu ideologi dan sumber inspirasi: ajaran Muridyah, nilai sentral yang darinya memancar etos kerja, disiplin, sukses, dan ketaatan yang mutlak kepada marabout. Wallahu a’lam.

SILSILAH TIJANI DI INDONESIA

Currently in Buntet, another tarekat, the Tijaniyah, is much more dominant than Syattariyah. Tijaniyah seems to gain more and more attraction among the Javanese and thus, with special reference to Buntet, it deserves a special attention. In addition to this, as we shall see, Buntet has been one of the important door-ways for the further spread of this tarekat to other parts of Java, especially West Java. It is this special role that in the subsequent discussion I wish to stress.[11]

The Origin of Tijaniyah

Tarekat Tijaniyah was founded by Abu-‘Abbas Ahmad who claimed to be the 21st descendant of the Prophet Muhammad. He was born in 1150/1737 at ‘Ain Madi in south Algeria. His father, Muhammad bin Mukhtar, is said to have been a pious man of learning who lived and taught at ‘Ain Madi, whereas his mother, “Sayidah ‘Aisyah binti Abdullah bin Al-Sanusy-Attijany” was of the original Tijani tribe of ‘Ain Madi and thus the name At-Tijani for Abu-‘Abbas Ahmad is derived from his mother.[12]

At seven years of age, Ahmad at-Tijani is said to have read the whole Qur’an well, especially in Nafi’ style (qiraat Nafi’). He then studied various religious subjects. He learnt Mukhtashar al-Syeikh Khalil, a summary of Malikite jurisprudence, read Risalah Jama’ah as-Shufiyah bi bilad al-Islam by Abu’l Qasim al-Qusayri, studied Muqaddimas of Ibn Rusyd and al-Akhdari and became a learned figure. He taught a number of students and gave fatwa (legal judgement) when he was 20. At 21 years of age he felt a call to the Sufi life and started travelling. He came to Fez in 1171/1757–8 in search of Sufi syeikh, studied the Prophetic traditions and joined three Sufi brotherhoods, the Qadiriyah, the Nashiriyah and the thariqah of Ahmad al-Habib bin Muhammad.[13] Among the Sufi syeikh whom Ahmad at-Tijani met was Muhammad bin Hasan Al-Wanajaly a great wali of his time who, at mount Zabib, said that At-Tijani would have a position (maqam) equal to Asy-Syadzily. Ahmad at-Tijani became a real Sufi at 31 after contemplation (riyadhah) for a period of time.[14]

Table 8.2: Ancestral Genealogy of Abu Abbas Ahmad at-Tijani The founder of Tijaniyah order

1. The Prophet Muhammad
2. Ali bin Abi Thalib
3. Hasan al-Sibthi
4. Hasan al-Mutsanna
5. Abdullah
6. Muhammad an-Nafs az-Zakiyah
7. Ahmad
8. Ali Zain al-Abidin
9. Ishaq
10. Idris
11. Abdul Jabbar
12. Abbas
13. Abdillah
14. Ali
15. Ahmad
16. Ahmad al-‘Alwani
17. Salim
18. Muhammad
19. Mukhtar
20. Muhammad
21. Abu ‘Abbas Ahmad at-Tijani

Ahmad at-Tijani went to Tunis, then to Mecca on pilgrimage in 1186/1772–3. On his way to Mecca he stopped at Azwawi, a town near Algiers and took an initiation into the Khalwatiyah order with Mahmad b ‘Abdul Rahman. He spent a year in Tunis, teaching the Kitab al-hikam of Ibn Ata’ Allah, then went to Egypt to meet Syeikh Mahmud al-Kurdi, the Khalwatiyah chief in Cairo. He reached Mecca on Syawwal 1187/1773–4, then performed his Hajj. In Mecca he tried to meet a great Indian Sufi Ahmad bin Abdullah al-Hindy. Although he failed to meet him in person, via al-Hindy’s servant, At-Tijani received a written message from him saying that At-Tijani inherited all al-Hindy’s occult mystical learning, and that At-Tijani would reach an equal status with Abu’l Hasan Asy-Syadzily. Two months after that al-Hindy died.[15]

After finishing his pilgrimage At-Tijani went to Medina to visit the Prophet’s tomb and met Syeikh Abdul Karim as-Samman, the Sammaniyah chief (a branch of Khalwatiyah), who foretold his potential for becoming the dominant qutb (pole). At-Tijani left Arabia in 1191/1777–8 for Africa via Egypt where Mahmud al-Kurdi authorised him to preach the Khalwatiyah order in North Africa. He did not return to ‘Ain Madi however, but went to Fez then settled in Tlemsen (Algeria) until 1196/1781–2. From Tlemsen he went to Syallala and settled in Sidi Abi Samghun, an oasis 75 miles south of Geryville. There, in that year (1196/1781–2), he marked the foundation of the Tijaniyah order when he announced to his followers that the Prophet appeared to him in daylight while he was fully conscious and in active mind (yaqdhah), not dreaming. The Prophet, he said, authorised him to start a new work of at-tarbiyah (spiritual guidance) and assigned him his order’s wird (litanies), consisting of istighfar (asking God’s pardon) 100 times and shalawat (exaltation of the Prophet Muhammad) 100 times.[16]

In AH 1200, At-Tijani claimed, the Prophet reappeared and completed the litanies with hailalah (uttering there is no God but Allah). Fourteen months later, on Muharram AH 1214 At-Tijani claimed to have reached a position of ‘the pole of (wali) poles’ (al-qutbaniyatul-’udhma) which means that he obtained the ‘highest rank of the highest’ within the current wali hierarchy. On 18th Shafar of the same year he attained another position, ‘the hidden seal of all poles’ (al-khatm wa’l-katm) or ‘the hidden end of the highest pole.’ This implied that there would be no more wali pole whose position is higher than himself.[17] Bearing simultaneously two positions, At-Tijani relinquished his former affiliation with the four orders with the assertion that along with teaching him the litanies for his order in person, the Prophet himself also ordered At-Tijani to give up all his former affiliations with the other orders. This was an official proclamation that At-Tijani only recognised the Prophet as his master and hence the Tijaniyah adherents claimed their order as at-Thariqah al-Muhammadiyah, a name similar to that claimed by the followers of Sanusiyah and Kittaniyah for their own tarekat.[18] At-Tijani died on 12 Syawwal 1230/22 September 1815 when he was 80 years old. He was buried in Fez.

Some Tijaniyah’s Essential Doctrines

There are some essential doctrines which mark Tijaniyah as being distinct from other tarekat. I wish to mention briefly some of them before discussing the specific role of Pesantren Buntet with regard to this tarekat. Trimingham characterised Tijaniyah as belonging to the 19th century revival movement mainly because:

He (Ahmad At-Tijani, the founder of the tarekat) imposed no penances or retreats and the ritual was not complicated. He emphasised above all the need for intercessor between God and man, the intercessor of the age being himself and his successors. His followers were strictly forbidden, not merely to pay the ‘

ahd of allegiance to any other shaikh, but to make invocations to any wali other than himself …[19]

It is common belief among the Sufis that their syeikh are organised in a spiritual hierarchy, hence a Sufi of high reputation of sanctity and learning, could claim to have attained a certain rank in the hierarchy. His followers had only to accept on trust what their Syeikh’s claimed.[20] In this context, At-Tijani took the liberty of claiming to occupy two of the highest positions simultaneously, one being Qutb al-Aqtab (the Pole of the Poles) the other being Khatm al-Wilayah al-Muhammadiyah (the Seal of Muhammadan Sainthood). This twofold position in relation to other wali is drawn parallel to the position of the Prophet Muhammad vis-a-vis other prophets. The Prophet Muhammad was the Khatm (seal) of the prophets in the sense that he was to complete all marvels of the other prophets, and that there would be no prophet sent to earth after him. At-Tijani on the other hand, was the Khatm of the wali in the sense that he bears a complete and perfect embodiment of wilayah before and after him, and that if ever there may be other wali after him, none would surpass or supersede at-Tijani in rank.[21]

At-Tijani is not a unique claimant of the Qutb al-Aqtab and the Khatm al-Wilayah. This position had been claimed by Muhyi ad-Din ibn al-‘Arabi for himself. He was the famous Andalusian Sufi in the 13th century whose theosophical concepts influenced much of At-Tijani especially regarding the concept of al-khatm.[22] The position was also claimed in the 14th century by an Egyptian ‘Ali bin Wafa for his father, Muhammad bin Wafa, and by the founder of Kittaniyah order, Muhammad bin al-Kabir al-Kittani of Morocco in the 19th century.[23] The Tijanis however, assert that later on, Ibn al-‘Arabi found that he himself had been mistaken and thus he wrote in his Futuhat al-Makkiyah that the Khatm al-Wilayah al-Muhammadiyah would be a man of noble Arab origin, living in his (Ibn ‘Arabi’s) own time, in Fez, and when God would try to locate this man among people, they would not believe him. Beside the fact that no one else in Fez had announced such a claim, except that “the Khatm al-Wilayah would be living in his (Ibn al-‘Arabi’s) time,” all points to Ibn al-‘Arabi’s formal disavowal for his own status to be taken over by the Tijani to confirm At-Tijani’s position.[24]

Claiming this superior position above other wali, along with giving up his affiliation with other orders At-Tijani posited his own order to excel the others. This claim, in turn, was formed into a doctrine which requires that all Tijani followers should neither join any other orders nor seek for barakah from other wali by visiting them, dead or alive. Further, as every Tijani is required to bind his heart completely to his own Tijani Syeikh, no Tijani follower is allowed to associate membership with any other order at the same time. Thus, anyone who would like to become a Tijani should be spiritually free. If he is a member of a certain order he has to give up his membership in his former order. The prohibition for a Tijani to join another tarekat is however accompanied by the Tijaniyah rejoicing doctrines. Kitab Ar-Rimah affirms At-Tijani’s assertion that (by the will of God) his faithful companions shall not enter the mahsyar with other laymen.[25] While being at the Mahsyar, Tijaniyah followers will not encounter suffering even for a second until they are settled in the highest heavens. On the Day of Judgement faithful Tijani companions will not stay at the stations amidst the mass of laymen; instead they will rest under the shadow of God’s Throne. In addition, the Prophet himself had taught At-Tijani in words, the shalawat Jawharat al-Kamal, and affirmed that whoever recites this shalawat, the Prophet and the Four Companions will be present with him during the recital.[26] All the rejoicing and other doctrines tend to impress exclusiveness, as if the Tijani followers were above the other Muslims and this, certainly, provokes disagreement, even refutations.

Another feature worth mentioning, which distinguishes Tijaniyah from other tarekat, is concerned with the notion of a spiritual genealogy chain (silsilah). In ordinary Sufi traditions, a tarekat, including the already mentioned Syattariyah, will produce a long list of names by which the present Syeikh and the founder of the tarekat are linked together spiritually in terms of master-to-master lineage, back to Al-Junaid or al-Busthami and via ‘Ali or Abu Bakr, to the Prophet Muhammad. It is this silsilah that validates that its rituals come from the Prophet and that ensures the flow of barakah. Contrary to this, At-Tijani produced no silsilah because, as At-Tijani himself claimed, and as ‘Ali al-Harazim puts it in his Jawahir al-Ma’ani (an official Tijani reference), the Prophet appeared to him when he was awake (yaqdhah) and instructed him in all the litanies and the number of times they were to be repeated.[27] Thus, if present muqaddam (Tijaniyah syeikh), have a silsilah, it will be much shorter than what is ordinarily known for a Sufi silsilah.[28]

Currently Tijaniyah has become an established order throughout the Muslim world including Indonesia, especially Java. With all its peculiarities and crucial points it has encountered opposition and rejection over time. An early serious rejection came from Muhammad al-Khidr bin Ma Ya’ba (1927). In his Musytaha al-kharif al-jani, al-Khidr devoted a full chapter to recount the absurdity of At-Tijani’s claim. He also attempted to prove that At-Tijani’s claim has no grounds in the Prophetic traditions. The Tijanis, on the other hand, consider that what had happened with their master and the presumed direct communication with the Prophet while he was awake was a sign of the Prophet’s favour and thus ensured the status of the tarekat as being above others.[29] In addition, Al-Khidr’s attitude towards the Tijaniyah seems to have been motivated, at least partly, by a political outlook rather than purely on theological grounds. This is due to the fact that upon the death of At-Tijani and the collapse of the Turkish rule, At-Tijani’s successors, for their own reasons (probably due to the opposition from other tarekat), brought Tijaniyah into subservient co-operation with French colonialism in Algeria at that time.[30]

When Tijaniyah was brought to Java at the end of 1920s and in the early 1930s, similar refutations also came from some already established orders such as Naqsabandiyah, Qadiriyah, Syattariyah, Syadziliyah and Khalwatiyah.[31] The most notable one came from Sayid Abdullah bin Shadaqah Dahlan, an Arab who settled in Java, the nephew of Sayid Ahmad bin Zayni Dahlan, a distinguished Syafi’ite Mufti in Medina. In the same way as Muhammad al-Khidr bin Ma Ya’ba did, Sayid Abdullah referred to the crucial points contained in the Tijaniyah doctrines. He recounted the fallacies of the doctrines and denounced them by saying that some ulama in Morocco, Egypt and Hejaz had accepted Tijaniyah as untrue.[32] The crisscrossing argumentations for and against Tijaniyah that prevailed at that time called for intervention from the NU, the traditionalist Muslim organisation that takes a number of tarekat under its umbrella. In its 6th Congress on August 1931 held in Cirebon, in which Kyai Adlan Ali, a prominent figure of Pesantren Cukir, Jombang (East Java) was appointed Chairman, the Tijaniyah issue was included in the agenda. After a long and exhausting debate chaired by Kyai Hasyim Asy’ari, the Congress finally agreed that Tijaniyah is mu‘tabarah. This, nevertheless, did not end the anti-Tijaniyah campaign especially outside the NU circle. Further refutation, for example, came from Kyai Muhammad Ismail of Cracak (Cirebon), a distinguished Syeikh of the Qadiriyah wan-Naqsabandiyah order who personally was not affiliated to the NU Through his pamphlets, he raised renewed and sophisticated arguments similar to those expounded by earlier anti-Tijaniyah proponents.[33]

Quite recently, another refutation even came from within the NU circle when Kyai As‘ad of Pondok Kramat in Pasuruan (East Java) issued a 94 page manuscript.[34] The manuscript was a translation in Madurese vernacular of the Wudhuh ad-Dalail, originally written on 26 Rabi’ ats-Tsani 1930/19–20 (September 1930). Through this translation he turned the Tijaniyah issue from being a scholarly concern into a public concern. The polemic became complicated, albeit degraded, because some non-ulama became involved in the affair.[35] In a session held on December 1984 at Pesantren Nurul Qadim, Probolinggo (East Java), Kyai As‘ad demanded that the NU review the Cirebon decision regarding the legitimacy of the Tijaniyah. In the session which was part of the 27th NU Congress centred at Pesantren Asem Bagus, Situbondo (East Java), Kyai As‘ad encountered strong opposition from other kyai and failed to have his demand put into effect.[36] The result was that the status of Tijaniyah as being mu‘tabarah remained unshaken.

Under seemingly continuous opposition, Tarekat Tijaniyah keeps growing. It relies on simple rites relative to other tarekat, yet promises its adherents high spiritual efficacy and merit. Together with its friendly attitude towards worldly life rather than the ascetic tendency usually exhibited by other Sufi orders, “Tijaniyah is suitable for every one, even the busy people of modern times; it is even suitable for civil servants,” said Kyai Abdullah Syifa, a Tijaniyah muqaddam at Buntet. Currently, Tijaniyah enjoys wide acceptance from many people ranging from ulama, state dignitaries, and intellectuals to ordinary laymen.[37]

The Role of Buntet

In his special account on the rise of Tijaniyah on Java, Pijper states that Tarekat Tijaniyah was not known in Java before 1928. A wandering Arab, born in Medina, Syeikh Ali bin ‘Abdullah at-Thayyib al-Azhari, is held responsible for the introduction of this tarekat to Java, especially through his work, Kitab al-Munyah fi ‘t-thariqat at-Tijaniyah, Tasikmalaya: 1349/January 1928, a treatise on Munyat al-Murid.[38] Pijper points out further that from the age of nine years, Syeikh ‘Ali at-Thayyib had studied in Cairo where he remained for 20 years; he then stayed and taught in Mecca for six years. He returned to Medina and worked as a mufti for about ten years, then came to Java. First he stayed in Cianjur, then successively in Bogor, Tasikmalaya and back in Cianjur. In Java he lived from teaching and extensive travel from Banten to Surabaya selling religious books, including his own work, Kitab Misykat al-Anwar fi shirat an-Nabi al-Mukhtar, Tasikmalaya: (undated). Pijper claimed that he had met Syeikh ‘Ali at-Thayyib at his house on the slope of mount Gede in Cianjur.[39]

According to local Tijani sources, the spread of Tijaniyah on Java is mainly attributed to two figures, one was ‘Ali at-Thayyib al-Madani, an authoritative scholar in Medina who formed the gate for West Java by recruiting seven West Javanese muqaddam, the other was ‘Abd al-Hamid al-Futi, also a distinguished scholar in Arabia who formed the gate for East Java by recruiting two East Javanese. Table 8.3 shows that ‘Ali at-Thayyib al-Madani, who was held responsible for the spread of Tijaniyah in West Java, traced his spiritual genealogy with Ahmad at-Tijani through two different sources: Syeikh Adam bin Muhammad Shaib al-Barnawi and Syeikh Muhammad Alfa Hasyim.[40] This spiritual link can also be seen from Figure 8.2

Table 8.3: Spiritual genealogy of Syeikh Ali At-Thayyib al-Madani (West Java gate of Tijaniyah)

Chain-1 Chain-2
1 Ahmad at-Tijani 1 Ahmad at-Tijani
2 Muhammad b Qasim al-Bisri
Abd Wahab al-Ahmar
2 Muhammad a-Ghala
3 Ahmad al-Bani a-Fasi 3 Amr b Sa’id al-Futi
4 Adam b Muhammad Shaib al-Barnawi 4 Al-Haj as-Sa’id
5 Ali at-Thayyib al-Madani 5 Muhammad Alfa Hasyim
6 Ali at-Thayyib al-Madani

The seven West Javanese muqaddam recruited by Syeikh Ali at-Thayyib were his own grandson, Syeikh Muhammad bin ‘Ali bin ‘Abd Allah at-Thayyib (Bogor), Kyai Asy’ari Bunyamin (Garut), Kyai Badruzzaman (Garut), Kyai ‘Utsman Dlamiri (Cimahi, Bandung) and three brothers Kyai Abbas, Kyai Anas and Kyai Akyas (Buntet). It was these West Javanese ‘magnificent seven’ who were in turn, responsible for the further spread of Tijaniyah, not only in West Java but also in Central and East Java because later, many other Javanese muqaddam were initiated by one or more of them. Among the Tijani, this silsilah grew into a complex crisscrossing spiritual chain as some muqaddam for various reasons, either for seniority or intellectual considerations, took initiation from more than one superior muqaddam (muqaddam min muqaddam). Kyai Hawi, father of a current muqaddam at Buntet, Kyai Fahim, for example, took initiation from Kyai Saleh, Kyai Abbas, Kyai Anas, Kyai Akyas and, when he went to Mecca, from a very senior muqaddam, Syeikh Muhammad Hafiz at-Tijani. The latter had only two Syeikh that spiritually linked him with Ahmad at-Tijani, the founder of the order.[41]

Figure 8.2: Main Entrance of Tijaniyah to Java.

Figure 8.2: Main Entrance of Tijaniyah to Java.

Kyai Abdullah Syifa, another current muqaddam at Buntet, took his initiation from Kyai Hawi and Kyai Akyas. Kyai Fauzan Fathullah (Sidagiri, Prussian, East Java), the writer of Biografi Alquthbul Maktuum, took initiation from Kyai Khozin Syamsul Mu’in (Probolinggo), Kyai Muhammad bin Yusuf (Surabaya) and Syeikh Muhammad bin ‘Ali bin ‘Abd Allah at-Thayyib (Bogor).

Syeikh Abd al-Hamid al-Futi, the main gate for East Java, traced his authority from Muhammad Alfa Hasyim (source 2 number 4 of table 8.3). In turn, ‘Abd al-Hamid al-Futi, initiated two East Javanese, Kyai Khozin Syamsul Arifin and Kyai Jauhar. Kyai Khozin Syamsul Arifin initiated Kyai Mukhlis (Surabaya), whereas Kyai Jauhar initiated Kyai Muhammad Tijani (Madura). Thus, even a muqaddam who took initiation from only one superior muqaddam will automatically inherit multiple silsilah because through Syeikh ‘Ali bin Abd Allah at-Thayyib, he can trace at least two lines, those of Syeikh Adam al-Barnawi and Syeikh Muhammad Alfa Hasyim. How complex the silsilah is can be observed from Figure 8.4.

Within the Buntet line, the persons who are considered the most instrumental and are held responsible for the spread of Tijaniyah, are Kyai Anas (1883–1945) and Kyai Abbas and, for the next generation, Kyai Hawi. Kyai Anas was the son of Kyai Abdul Jamil, younger brother of Kyai Abbas. Like Kyai Abbas, Kyai Anas first studied with Kyai Nasuha at Pesantren Sukunsari (Plered), then with Kyai Agus (Pekalongan), and Kyai Hasyim Asy’ari at Tebuireng (Jombang). Together with Kyai Abbas, he was also involved in the foundation of Pesantren Lirboyo (Kediri) led by Kyai Abdul Manaf. He went to Mecca for both pilgrimage and study while his brother, Kyai Abbas, led Pesantren Buntet. It was due to Kyai Abbas’ advice that Kyai Anas took Tarekat Tijaniyah. Kyai Abbas himself met Syeikh ‘Ali at-Thayyib in Medina but, despite his interest in Tijaniyah, he did not take an initiation at that time because he bore responsibility as a Syattariyah mursyid. Kyai Anas took his brother’s advice and upon his return he publicly established tarekat Tijaniyah and thus, there were two tarekat in Pesantren Buntet at the same time, the Syattariyah led by Kyai Abbas, and Tijaniyah led by Kyai Anas. Eventually, when both tarekat grew larger, Kyai Abbas took Tijaniyah initiation, not from his younger brother, Kyai Anas, but from Syeikh ‘Ali bin ‘Abd Allah at-Thayyib al-Madani when the latter visited Java (Bogor) in 1937. In 1939 Kyai Anas moved from Buntet and established his own pesantren at Kilapat, an adjacent village south-east of Buntet, where adultery and burglary were common. He named his pesantren ‘Sidamulya,’ meaning ‘to become lofty.’ Later, the name Kilapat for the village, where the new pesantren is located, was also renamed Sidamulya, following the pesantren’s name. The earlier reputation of the village gradually vanished and it gained a reputation as a santri village.

Figure 8.3: Recruitment of Tijaniyah Muqaddam from Buntet

Figure 8.3: Recruitment of Tijaniyah Muqaddam from Buntet
Figure 8.4: Spiritual Genealogy of Some Tijaniyah Muqaddam in Java

Figure 8.4: Spiritual Genealogy of Some Tijaniyah Muqaddam in Java

By then, Kyai Abbas was associated with and led the two tarekat, becoming mursyid of Syattariyah and muqaddam of Tijaniyah at the same time. To some people this seemed to show the extent of Kyai Abbas’ leadership capacity and open-mindedness. Not only did he successfully lead the pesantren but also two tarekat centred at his pesantren. To others it was puzzling how Kyai Abbas managed his association with the two tarekat, considering Tijaniyah necessitates every Tijani to abandon other orders. Kyai Abbas himself as a Tijaniyah muqaddam broke the Tijaniyah rule because he did not give up his association with Syattariyah. When I asked about the matter, informants in Buntet of either Syattariyah or Tijaniyah always referred to this as an exception due to both Kyai Abbas’ intellectual and spiritual excellence. Moreover, it was said that it was necessary especially after Kyai Anas, the muqaddam of Tijaniyah, had established his own pesantren, while in Buntet both tarekat were growing larger. No one directly raised the issue, especially not even Syeikh Ali at-Thayyib himself, the initiator of Kyai Abbas, suggesting that in certain circumstances, Tijaniyah strict rules could also have exceptions.

In their career as Tijaniyah muqaddam Kyai Anas and Kyai Abbas produced a number of new muqaddam. Kyai Anas initiated Kyai Muhammad (Brebes), Kyai Bakri (Kesepuhan, Cirebon), Kyai Muhammad Rais (Cirebon),[42] Kyai Murtadlo (Buntet), Kyai Abdul Khair, Kyai Hawi (Buntet) and Kyai Soleh (Pesawahan). Repeating the initiation made by Kyai Anas, Kyai Abbas initiated Kyai Soleh and Kyai Hawi (Buntet). He also initiated Kyai Badruzzaman (Garut) and Kyai Utsman Dlomiri (Cimahi, Bandung) before both kyai repeated an initiation from Syeikh ‘Ali bin ‘Abd Allah at-Thayyib al-Madani when the latter made another visit to Java. Among the muqaddam initiated by Kyai Anas and Kyai Abbas, Kyai Hawi excelled himself by producing seven more muqaddam. He initiated Kyai Abdullah Syifa (Buntet), Kyai Fahim Hawi, his son (Buntet), Kyai Junaidi, son of Kyai Anas (Sidamulya), Kyai Muhammad Yusuf (Surabaya), Habib Muhammad Basalamah (Brebes, Central Java), Kyai Baidawi (Sumenep, Madura) and Kyai Rasyid (Pesawahan, Cirebon). Currently, Kyai Hawi’s son, Kyai Fahim Hawi, has initiated three new muqaddam, Ustadz Maufur (Klayan, north of Cirebon), Kyai Abdul Mursyid (Kesepuhan, Cirebon) and Kyai Imam Subky (Kuningan). In East Java, Kyai Muhammad bin Yusuf Surabaya initiated Kyai Badri Masduqi (Probolinggo) and Kyai Fauzan Fathullah. Kyai Baidowi (Sumenep) initiated Habib Luqman (Bogor), Kyai Mahfudz (Kesepuhan, Cirebon) and Nyai Hamnah (Kuningan).[43] In turn the new muqaddam have recruited many followers and quite likely further recruitment will continue.

It is clear that Pesantren Buntet has played an important role in the spread of first Syattariyah and then Tijaniyah in Java, especially West Java. Not only has Pesantren Buntet now become the largest pesantren in Cirebon but it also represents one of the oldest pesantren in the area with its inherent mission for the transmission of religious tradition. The notion of ‘the oldest’ brings further implications in that, firstly, its dynamics and development reflect the dynamics and development of traditional Islam in this area for a period of more than two and a half centuries. Secondly, if the Babad narrative is taken into account, Pesantren Buntet finds its roots in the early stages of the Islamisation of 15th century Java, especially of West Java. Traditionally therefore, Pesantren Buntet stands in an unbroken chain of continuous religious transmission over time from the pre-kraton, early kraton, kraton and post-kraton eras. During the pre-kraton era religious transmission centred in the village as a free and independent undertaking. During the period of the early kraton religious transmission was fully under the auspices of the kraton. Not only did religious transmission enjoy political support and legitimation from the kraton, but also had the kraton homage. Later on, when the kraton came under the subjection of foreign rule, religious transmission was banned from the kraton. A hundred years after the death of Panembahan Ratu, religious transmission rediscovered its way back from the kraton to the village. This was marked by the establishment of Pesantren Buntet. Under considerable strain the pesantren endured and developed into its present form. Its present existence within the community therefore, represents the triumph of its spiritual traditions. Thus, what we can see in Cirebon and probably elsewhere on Java, the maintenance of scriptural and cultural traditions continues within the Javanese Muslim society, most notably, through combination of pesantren and tarekat. By these institutions, religious transmission has never ceased either with or without the support of the political power structure. This is probably one element that contributes to answering Hodgson’s question: “why the triumph of Islam in Java was so complete.”[44]

Plate 39: Kyai Fahim Hawi (left), a Tijaniyah Muqaddam of Buntet.

Plate 39: Kyai Fahim Hawi (left), a Tijaniyah Muqaddam of Buntet.
Plate 40: Kyai Abdullah Syifa and his five year old son.

Plate 40: Kyai Abdullah Syifa and his five year old son.
Plate 41: Kyai Fu’ad Hasyim.

Plate 41: Kyai Fu'ad Hasyim.
Plate 42: Kyai Fahim Hawi among Tijaniyah followers.

Plate 42: Kyai Fahim Hawi among Tijaniyah followers.
Plate 43: Nyai Hammah, a Tijaniyah Muqaddam of Kuningan.

Plate 43: Nyai Hammah, a Tijaniyah Muqaddam of Kuningan.
Plate 44: Nyai Hamnah (centre), her followers and Kyai Imam Subki (Nyai Hamnah’s husband).

Plate 44: Nyai Hamnah (centre), her followers and Kyai Imam Subki (Nyai Hamnah's husband).

Tarekat Tijaniyah

CURAHAN RAHMAT ILLAHI

CURAHAN RAHMAT ILLAHI

Tarekat Tijaniyah
Tarekat Tijaniyah didirikan oleh Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin al-Mukhtar at-Tijani (1737-1815), salah seorang tokoh dari gerakan “Neosufisme”. Ciri dari gerakan ini ialah karena penolakannya terhadap sisi eksatik dan metafisis sufisme dan lebih menyukai pengalaman secara ketat ketentuan-ketentuan syari’at dan berupaya sekuat tenaga untuk menyatu dengan ruh Nabi Muhammad SAW sebagai ganti untuk menyatu dengan Tuhan.

At-Tijani dilahirkan pada tahun 1150/1737 di ‘Ain Madi, bagian selatan Aljazair. Sejak umur tujuh tahun dia sudah dapat menghafal al-Quran dan giat mempelajari ilmu-ilmu keislaman lain, sehingga pada usianya yang masih muda dia sudah menjadi guru. Dia mulai bergaul dengan para sufi pada usia 21 tahun. Pada tahun 1176, dia melanjutkan belajar ke Abyad untuk beberapa tahun. Setelah itu, dia kembali ke tanah kelahirannya. Pada tahun 1181, dia meneruskan pengembaraan intelektualnya ke Tilimsan selama lima tahun.

Pada tahun 1186 (1772 - 1773), dia menuju Hijaz untuk menunaikan ibadah haji, dan meneruskan belajar di Makkah dan Madinah. Di dua kota Haramain ini, dia lebih banyak memfokuskan diri untuk berguru kepada banyak tokoh tarekat sufi dan mengamalkan ajarannya. Di antara tarekat yang dipelajarinya, misalnya Tarekat Qadiriyah, Thaibiyah, Khalwatiyah, dan Sammaniyah. Di Madinah dia belajar langsung kepada seorang tokoh sufi, Syekh Muhammad bin Abdul Karim as-Samman, pendiri tarekat Sammaniyah, yang mengajarinya ilmu-ilmu rahasia batin. Kemudian dari Makkah dan Madinah, dia menuju Kairo dan menetap untuk beberapa lama di sana. Pada tahun 1196 (1781 - 1782), atas saran dari seorang syekh sufi yang baru dikenalinya, dia kembali ke Tilimsan untuk mendirikan tarekat sendiri yang independen. Di sana at-Tijani mengadakan khalwat khusus, yakni memutuskan kontak dengan masyarakat sampai mendapatkan ilham (fath/kasyf).

Dalam fath yang diterimanya, dia mengaku bahwa hal itu terjadi dalam keadaan terjaga. Ketika itu, Nabi SAW mendatanginya dan memberitahukan bahwa dirinya tidaklah berhutang budi pada syekh tarekat mana pun.

Karena menurut dia, Nabi sendiri-lah yang selama ini menjadi pembimbingnya dalam bertarekat. Selanjutnya, Nabi SAW menyuruh dia untuk meninggalkan segala sesuatu yang telah dipelajari sebelumnya berkenaan dengan tarekat. Bahkan dia juga diberi izin untuk mendirikan tarekat sendiri disertai wirid yang mesti diajarkan kepada masyarakat, yaitu istighfar dan shalawat yang diucapkan masing-masing sebanyak 100 kali.

Setelah kejadian itu, ia kembali ber’uzlah di padang pasir dan berdiam di oase Bu Samghun. At-Tijani tampaknya menghadapi tekanan dari kaum otorita Turki. Di tempat inilah ia menerima ilham yang terakhir (1200/1786).
..
Dalam fath ini Nabi SAW memberikan tambahan wirid, yaitu tahlil yang harus diucapkan sebanyak 100 kali. Nabi SAW juga mengatakan bahwa at-Tijani adalah penunggu yang akan menyelamatkan hamba Allah yang durhaka. Pada tahun 1213/1798, dia meninggalkan ‘uzlahnya dari padang pasir dan pindah ke Maroko untuk memulai menjalankan misi yang lebih luas lagi, dari kota Fes. Di kota ini dia diterima baik oleh penguasa Maulay Sulaiman dan tetap tinggal di sana sampai wafatnya pada 22 September 1815, dalam usia 80 tahun.

Meskipun dia banyak bertarekat dan menjadi muqaddam khalwatiyah (at-Tijani mempunyai silsilah Khalwatiyah), tetapi pada perkembangan selanjutnya, yakni setelah menjalani hidup sufistik secara ketat dan keras, dia kemudian mendirikan tarekat yang independen, yang diyakini atas izin Nabi SAW.

Tarekat yang didirikan at-Tijani ini agak unik dan sedikit banyak berbeda dengan tarekat-tarekat lain terutama soal silsilahnya. Misalnya dari Syekh Ahmad, sang pendiri, langsung kepada Nabi SAW, melintas jarak waktu 12 abad. Begitu juga anggota tarekat ini bukan hanya tidak dibenarkan untuk memberikan bait ‘ahd kepada syekh mana pun, tetapi juga melakukan dzikir untuk wali lain dan dirinya serta wali-wali dari tarekatnya. Menurut at-Tijani, Tuhan tidak menciptakan dua hati dalam hati manusia, dan oleh karenanya tak seorang pun dapat melayani dua orang mursyid sekaligus.

Lagi pula, bagaimana mungkin seorang salik akan bisa sempurna menempuh suatu jalan, sedangkan pada waktu bersamaan ia juga sedang menampuh (mengambil) jalan lain?
Sejak tinggal di kota Fes ini, at-Tijani lebih berkonsentrasi pada pengembangan tarekatnya sendiri. Sebagai seorang syekh tarekat yang berpengaruh dia berkali-kali diajak oleh penguasa negeri itu untuk bergabung dalam urusan politik. Namun, dia tetap menolak. Sikapnya inilah yang membuat dia semakin disegani, dicintai, dan dihormati, baik oleh penguasa setempat maupun oleh masyarakat sekitarnya. Lebih dari itu, pihak penguasa Maulay Sulaiman, meski permintaannya ditolak, tetap memberikan berbagai hak istimewa kepadanya.

Semula tarekat yang dipimpin at-Tijani ini mendapatkan pengikut di Maghribi karena kecamannya terhadap ziarah ke makam para wali dan mawsin yang populer pada waktu itu. Namun karena perekrutan untuk menjadi muqaddam yang ditetapkan oleh at-Tijani agak longgar, misalnya dengan menunjuk sebagai muqaddam-muqaddam siapa pun yang melakukan bai’at, tanpa mengharuskan latihan selain dalam hukum dan aturan-aturan ritual, dengan tekanan utama pada ditinggalkannya semua ikatan dengan syekh-syekh lama kecuali dirinya. Sehingga setelah at-Tijani wafat, agen-agen tadi telah tersebar luas dan dengan sebuah sistem yang mendukungnya membuat dia mempunyai kekuatan penuh. Tarekat ini dengan segera menyebar luas dari Maghribi hingga Afika Barat, Mesir dan Sudan.

Aktivistas gerakan Tarekat Tijaniyah terbukti sangat positif dan militan. Seperti halnya para pengikut tarekat Qadariyah dan Syadziliyah, para murid tarekat ini berjasa menyebarluaskan Islam ke berbagai kawasan Afrika.

Menurut Coppolani, mereka menyiarkan Islam di kalangan pemeluk animisme dengan persaudaraan-persaudaraan sufi lainnya dan berada di garis terdepan dalam melakukan perlawanan terhadap ekspansi kolonialisme. Dari at-Tijani lalu diwakili oleh tokoh lainnya seperti al-Hajj Umar di Sudan Barat. Di Republik Turki, sebuah kelompok kecil penganut Tarekat Tijaniyah, adalah orang-orang muslim pertama yang secara terbuka menetang rezim sekulerisme sekitar tahun 1950.

Tarekat ini mulai masuk ke Indonesia sekitar tahun 1920-an, setelah disebarkan di Jawa Barat oleh seorang ulama pengembara kelahiran Makkah, Ali bin Abdullah at-Tayyib al-Azhari, yang telah menerima ijazah untuk mengajarkan tarekat ini dari dua orang syekh yang berbeda. Dan, pada tahun-tahun berikutnya, beberapa orang Indonesia yang belajar di Makkah menerima bai’at untuk menjadi pengikut Tarekat Tijaniyah dan mendapat ijazah untuk mengajar dari para guru yang masih aktif di sana.

Ini terjadi setelah serbuan Wahabi kedua terhadap Makkah pada tahun 1824, dan kebanyakan tarekat lain tidak dapat lagi menyebarkan ajaran pengkultusan terhadap para wali, tampaknya masih dapat ditolelir.

Di Indonesia, Tijaniyah ditentang keras oleh tarekat-tarekat lain. Gugatan keras dari kalangan ulama tarekat itu dipicu oleh pernyataan bahwa para pengikut Tarekat Tijaniyah beserta keturunannya sampai tujuh generasi akan memperlakukan secara khusus pada hari kiamat, dan bahwa pahala yang diperoleh dari pembacaan Shalawat Fatih, sama dengan membaca seluruh al-Quran sebanyak 1000 kali. Lebih dari itu, para pengikut Tarekat Tijaniyah diminta untuk melepaskan afiliasinya dengan para guru tarekat lain, yang dalam pandangan syekh pesaingnya dianggap sebagai praktik bisnis yang culas. Meski demikian, tarekat ini terus berkembang, utamanya di Cirebon dan Garut (Jawa Barat), Madura dan ujung Timur pulau Jawa sebagai pusat peredarannya. Penentangan ini baru mereda ketika Jam’iyyah Ahlith-Thariqah An-Nahdliyyah menetapkan keputusan setelah memeriksa wirid dan wadzifah tarekat ini. Dan tanpa memberikan pernyataan-pernyataan ekstremnya tarekat ini bukanlah tarekat sesat, karena amalan-amalannya sesuai ajaran Islam.

Sepanjang tahun 80-an tarekat ini ngalami perkembangan yang sangat pesat, terutama di Jawa Timur. Respons terhadap perkembangan yang dicapai tarekat ini menyebabkan pecahnya kembali konflik dengan para guru dari tarekat lain. Akar konflik ini lebih tertuju kepada persaingan keras untuk mendapatkan murid dan perasaan sakit hati di kalangan sebagian guru yang kehilangan banyak murid berpindah ke Tarekat Tijaniyah.

Kepindahan murid-murid dari tarekat lain ke Tarekat Tijaniyah ini berarti hilang pula murid-murid dari tarekat lain. Karena Tarekat Tijaniyah sama sekali tidak membolehkan para pengikutinya untuk berafiliasi lagi kepada syekh tarekat yang dianut sebelumnya.*** Salahuddin

Ajaran dan Dzikir Tarekat Tijaniyah
Sejauh ini at-Tijani tidak meninggalkan karya tulis tasawuf yang diajarkan dalam tarekatnya. Ajaran-ajaran tarekat ini hanya dapat dirujuk dalam bentuk buku-buku karya murid-muridnya, misalnya Jawahir al-Ma’ani wa Biligh al-Amani fi-Faidhi as-Syekh at-Tijani, Kasyf al-Hijab Amman Talaqqa Ma’a at-Tijani min al-Ahzab, dan As-Sirr al-Abhar fi-Aurad Ahmad at-Tijani. Dua kitab yang disebut pertama ditulis langsung oleh murid at-Tijani sendiri, dan dipakai sebagai panduan para muqaddam dalam persyaratan masuk ke dalam Tarekat Tijaniyah pada abad ke-19.

Meskipun at-Tijani menentang keras pemujaan terhadap wali pada upacara peringatan haii tertentu dan bersimpati kepada gerakan reformis kaum Wahabi, tetapi dia sendiri tidak menafikan perlunya wali (perantara) tersebut. At-Tijani sangat menekankan perlunya perantara (wali) antara Tuhan dan manusia, yang berperan sebagai wali zaman. Oleh karena itu, buku panduan Tijani kalimatnya dimulai dengan, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan sarana kepada segala sesuatu dan menjadikan sang Syekh perantara sarana untuk manunggal dengan Allah”. Dalam hal ini, perantara itu tak lain adalah dia sendiri dan penerusnya. Dan sebagaimana tarekat-tarekat lain, tarekat ini juga menganjurkan agar anggota-anggotanya mengamalkan ajaran dengan menggambarkan wajah syekh tersebut dalam ingatan mereka, dan mengikuti seluruh nasehat syekh dengan tenang.

Tarekat Tijaniyah mempunyai wirid yang sangat sederhana dan wadhifah yang sangat mudah. Wiridnya terdiri dari Istighfar, Shalawat dan Tahlil yang masing-masing dibaca sebanyak 100 kali. Boleh dilakukan dua kali dalam sehari, setelah shalat Shubuh dan Ashar. Wadhifahnya terdiri dari Istghfar (astaghfirullah al-adzim alladzi laa ilaha illa hua al hayyu al-qayyum) sebanyak 30 kali, Shalawat Fatih (Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad al-fatih lima ughliqa wa al-khatim lima sabaqa, nasir al-haqq bi al-haqq wa al-hadi ila shirat al-mustaqim wa’ala alihi haqqaqadruhu wa miqdaruh al-adzim) sebanyak 50 kali, Tahlil (La ilaaha illallah) sebanyak 100 kali, dan ditutup dengan doa Jauharatul Kamal sebanyak 12 kali.

Pembacaan wadhifah ini juga paling sedikit dua kali sehari semalam, yaitu pada sore dan malam hari, tetapi lebih afdlal dilakukan pada malam hari. Selain itu, setiap hari Jum’at membaca Hayhalah, yang terdiri dari dzikir tahlil dan Allah, Allah, setelah shalat Ashar sampai matahari terbenam. Dalam hal dzikir ini at-Tijani menekankan dzikir cepat secara berjamaah. Beberapa syarat yang ditekankan tarekat ini untuk prosesi pembacaan wirid dan wadhifah: berwudlu, bersih badan, pakaian dan tempat, menutup aurat, tidak boleh berbicara, berniat yang tegas, serta menghadap kiblat.

Satu hal yang penting dicatat dari dzikir Tarekat Tijaniyah — yang membedakannya dengan tarekat-tarekat lain — adalah bahwa tujuan dzikir dalam tarekat ini, sebagaimana dalam Tarekat Idrisiyyah, lebih menitikberatkan pada kesatuan dengan ruh Nabi SAW, bukan kemanunggalan dengan Tuhan, hal mana merupakan perubahan yang mempengaruhi landasan kehidupan mistik. Oleh karena itu, anggota tarekat ini juga menyebut tarekat mereka dengan sebutan At-Thariqah Al-Muhammadiyyah atau At-Thariqah al-Ahmadiyyah, termanya merujuk langsung kepada nama Nabi SAW. Akibatnya, jelas tarekat ini telah memunculkan implikasi yang ditandai dengan perubahan-perubahan mendadak terhadap asketisme dan lebih menekankan pada aktivitas-aktivitas praktis. Hal ini tampak sekali dalam praktik mereka yang tidak terlalu menekankan pada bimbingan yang ketat, dan penolakan atas ajaran esoterik, terutama ekstatikdan metafisis sufi.

Berikut petikan dari kitab As-sirr al-Abhar Ahmad at-Tijani yang menyangkut berbagai tata tertib, aturan dan dzikir dalam tarekat ini:

“Anda haruslah seorang muslim dewasa untuk melaksanakan awrad, sebab hal (awrad) itu adalah karya Tuhannya manusia. Anda harus meminta izin kepada orang tua sebelum mengambil thariqah, sebab ini adalah salah satu sarana untuk wushul kepada Allah. Anda harus mencari seseorang yang telah memiliki izin murni untuk mentasbihkan Anda ke dalam awrad, supaya Anda dapat behubungan baik dengan Allah.

Anda sebaiknya terhindar sepenuhnya dari awrad lain manapun selain awrad dari Syekh Anda, sebab Tuhan tidak menciptakan dua hati di dalam diri Anda. Jangan mengunjungi wali manapun, yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, sebab tidak seorang pun dapat melayani dua mursyid sekaligus. Anda harus disiplin dan menjalankan shalat lima waktu dalam jamaah dan disiplin dalam menjalankan ketentuan-ketentuan syari’at, sebab semua itu telah ditetapkan oleh makhluk terbaik (Nabi SAW). Anda harus mencintai Syekh dan khalifahnya selama hidup Anda, sebab bagi makhluk biasa cinta semacam itu adalah sarana untuk kemanunggalan: dan jangan berfikir bahwa Anda mampu menjaga diri Anda sendiri dari Kreativitas Tuhan Semesta, sebab ini adalah salah satu ciri dari kegagalan.

Anda dilarang untuk memfitnah, atau menimbulkan permusuhan terhadap Syekh Anda, sebab hal itu akan membawa kerusakan pada diri Anda. Anda dilarang berhenti untuk melantunkan awrad selama hidup Anda, sebab awrad itu mengandung misteri-misteri Sang Pencipta. Anda harus yakin bahwa Syekh mengatakan kepada Anda tentang kebijakan-kebijakan, sebab itu semua termasuk ucapan-ucapan Tuhan Yang Awal dan Yang Akhir.

Anda dilarang mengkritik segala sesuatu yang tampak aneh dalam thariqah ini, atau Penguasa Yang Adil akan mencabut Anda dari kebijak-kebijakan.

Jangan melantunkan wirid Syekh kecuali sesudah mendapat izin dan menjalani pentasbihan (talqin) yang selayaknya, sebab itu keluar dalam bentuk ujaran yang lugu. Berkumpullah bersama untuk wadhifah dan dzikir Jum’at dengan persaudaraan, sebab itu adalah penjagaan terhadap muslihat syetan. Anda dilarang membaca Jauharat al-Kamal kecuali dalam keadaan suci dari hadats, sebab Nabi SAW akan hadir dalam pembacaan ketujuh.

Jangan menginterupsi (pelantunan yang dilakukan oleh) siapa pun, khususnya oleh sesama sufi, sebab interupsi semacam itu adalah cara-cara syetan. Jangan kendur dalam wirid Anda, dan jangan pula menundanya dengan dalih apa pun atau yang lain, sebab hukuman akan jatuh kepada orang yang mengambil wirid lantas meninggalkan sama sekali atau melupakannya, dan dia akan menjadi hancur. Jangan pergi dan mengalihkan awrad tanpa izin yang layak untuk malakukan itu, sebab orang yang melakukan hal itu dan tidak bertaubat niscaya akan sampai kepada kejahatan dan kesengsaraan akan menimpanya. Anda dilarang memberitahukan wirid kepada orang lain kecuali saudara Anda dalam thariqah, sebab itu adalah salah satu pokok etika sains spiritual”.
..
Setiap tarekat memiliki satu atau lebih doa kekuatan khusus, misalnya Hizb al-Bahr milik Tarekat Syadziliyah, Subhan ad-Daim Isawiyah, Wirid as-Sattar milik Khalwatiyah, Awrad Fathiyyah milik Hamadaniyyah, dan lain-lain. Ciri khusu dari dzikir dan wirid yang menjadi andalan milik penuh tarekat ini adalah Shalawat Fatih dan Jauharat al-Kamal. Mengenai Shalawat Fatih, at-Tijani mengatakan bahwa dirinya telah memperintahkan untuk mengucapkan doa-doa ini oleh Nabi SAW sendiri. Meskipun pendek, doa itu dianggap mengandung kebaikan dalam delapan jenis: orang yang membaca sekali, dijamin akan menerima kebahagiaan dari dua dunia; juga membaca sekali akan dapat menghapus semua dosa dan setara dengan 6000 kali semua doa untuk memuji kemuliaan Tuhan, semua dzikir dan doa, yang pendek maupun yang panjang, yang pernah dibaca di alam raya. Orang yang membacanya 10 kali, akan memperoleh pahala yang lebih besar dibanding yang patut diterima oleh sang wali yang hidup selama 10 ribu tahun tetapi tidak pernah mengucapkannya. Mengucapkannya sekali setara dengan doa seluruh malaikat, manusia, jin sejak awal penciptaan mereka sampai masa ketika doa tersebut diucapkan, dan mengucapkannya untuk yang kedua kali adalah sama dengannya (yaitu setara dengan pahala dari yang pertama) ditambah dengan pahala dari yang pertama dan yang kedua, dan seterusnya.

Tentang Jauharat al-Kamal, yang juga diajarkan oleh Nabi SAW sendiri kepada at-Tijani, para anggota tarekat ini meyakini bahwa selama pembacaan ketujuh Jauharat al-Kamal, asalkan ritual telah dilakukan sebagaimana mestinya, Nabi SAW beserta keempat sahabat atau khalifah Islam hadir memberikan kesaksian pembacaan itu. Wafatnya Nabi SAW tidaklah menjadi tirai yang menghalangi untuk selalu hadir dan dekat kepada mereka. Bagi at-Tijani dan anggota tarekatnya, tidak ada yang aneh dalam hal kedekatan ini. Sebab wafatnya Nabi SAW hanya mengandung arti bahwa dia tidak lagi dapat dilihat oleh semua manusia, meskipun dia tetap mempertahankan penampilannya sebelum dia wafat dan tetap ada di mana-mana: dan dia muncul dalam impian atau di siang hari di hadapan orang yang disukainya.

Akan tetapi kaum muslim ortodoks membantah penyataan Ahmad Tijani dan para pengikutnya yang menyangkut pengajaran Nabi SAW ini kepadanya. Sebab jika Nabi SAW secara pribadi mengajari at-Tijani rumusan-rumusan doa tertentu maka itu berarti bahwa Muhammad telah “wafat” tanpa menyampaikan secara sempurna pesan kenabiannya, dan mempercayai hal ini sama dengan tindak kekafiran, kufr.

Tentu saja, alasan kaum muslim ortodoks ini masih bisa diperdebatkan, misalnya tanpa bermaksud membela tarekat ini dengan mempertanyakan kembali, apakah betul pengajaran Nabi SAW melalui mimpi itu berarti mengurangi kesempurnaan kenabiannya? Bukankah substansi dari pengajaran itu lebih tertuju kepada perintah bershalawat yang masih dalam bingkai pesan kenabian (syari’at), dan bukan merupakan hal yang baru? Bukankah Nabi SAW pernah bersabda bahwa mimpi seorang mukmin seperempat puluh enam dari kenabian? Menyangkut pahala pembacaannya, bukankah rahmat dan anugerah Allah yang tak terhingga akan tercurahkan kepada umat Islam yang senantiasa mewiridkan shalawat kepada sang hamba paripurna, kekasih dan pujaan-Nya, Muhammad Rasulullah SAW?.
..

ke utamaan sholawat fath

أهمية صلاة الفاتح لما أغلق
قال سيدنا رضي الله تعالى عنه كما هو في جواهر المعاني: كنت مشتغلا بذكر صلاة الفاتح حين رجعت من الحج الى تلمسان لما رأيت من فضلها, وهو أن المرة الواحدة منها بستمائة صلاة كما هو في وردة الجيوب, وقد ذكر صاحب الوردة أن صاحبها سيدي محمد البكري الصديقي نزيل مصر وكان قطبا رضي الله عنه قال : ان من ذكرها مرة واحدة ولم يدخل الجنة فليقبض صاحبها عند الله, وبقيت أذكرها الى أن رحلت من تلمسان الى أبي سمغون, فلما رأيت التي فيها المرة الواحدة بسبعين ألف ختمة من دلائل الخيرات تركت الفاتح لما أغلق واشتغلت بها وهي ( اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله صلاة تعدل جميع صلوات أهل محبتك, وسلم على سيدنا محمد وعلى آله سلاما يعدل سلامهم ) لما رأيت فيها من كثرة الفضل, ثم أمرني صلى الله عليه وسلم بالرجوع الى صلاة الفاتح لما أغلق, فلما أمرني بالرجوع اليها سألته صلى الله عليه وسلم عن فضلها, فأخبرني أولا بأن المرة الواحدة منها تعدل من القرآن ست مرات, ثم أخبرني ثانيا بأن المرة الواحدة منها تعدل من كل تسبيح وقع في الكون من كل ذكر ومن كل دعاء كبير أو صغير ومن القرآن ستة آلاف مرة لأنه من الأذكار.” قال سيدنا رضي الله تعالى عنه: “وأخبرني صلى الله عليه وسلم أنها لم تكن من تأليف البكري أي صلاة الفاتح لم أغلق ولكنه توجه الى الله مدة طويلة أن يمنحه صلاة على النبي صلى الله عليه وسلم فيها ثواب جميع الصلوات وسر جميع الصلوات وطال طلبه مدة ثم أجاب الله دعوته فأتاه الملك بهذه الصلاة مكتوبة في صحيفة من النور ثم قال الشيخ رضي الله عنه فلما تأملت هذه الصلاة وجدتها لا تزنها عبادة جميع الجن والانس والملائكةوخاصية الفاتح لما أغلق أمر الهي لا مدخل فيه للعقول فلو قدرت مائة ألف أمة في كل أمة مائة ألف قبيلة في كل قبيلة مائة ألف رجل وعاش كل واحد منهم مائة ألف عام يذكر كل واحد منهم في كل يوم مائة ألف صلاة على النبي صلى الله عليه وسلم من غير الفاتح لما أغلق وجمع ثواب هذه الأمم كلها في مدة هذه السنين كلها في هذه الأذكار كلها ما لحقوا كلهم ثواب مرة واحدة من صلاة الفاتح لما أغلق, فلا تلتفت لتكذيب مكذب ولا لقدح قادح فيها ، فان الفضل بيد الله يؤتيه من يشاء, فان لله سبحانه وتعالى فضلا خارجا عن دائرة القياس, ويكفيك قوله سبحانه وتعالى (وَيَخْلُقُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ)، فما توجه متوجه الى الله تعالي بعمل يبلغها وان كان ما كان, ولا توجه متوجه الى الله بعمل أحب إليه منها ولا أعظم عند الله منها الا مرتبة واحدة, وهي من توجه الى الله تعالى باسمه العظيم الأعظم لا غير وهو التوجهات والدرجة العليا من جميع التعبدات, ليس لفضله غاية ولا فوقه نهاية, وهذه الصلاة تليه في المرتبة والتوجه والثواب والفوز بمحبة الله لصاحبها وحسن المآب, فمن توجه الى الله مصدقا بهذا الحال فاز برضا الله وثوابه في دنياه وآخراه بما لا تبلغه جميع الأعمال, يشهد بها الفيض الالهي الذي لا تبلغه الآمال ولا يحصل هذا الفضل المذكور الا مع التسليم, ومن أراد المناقشة في في هذا الباب وهذا المحل فليترك, فانه لا يفيده استقصاء حجج المقال, واترك عنك محاججة من يطلب منك الحجج, فان القول في ذلك ردا وجوابا كالبحر لا تنقطع منه الأمواج, والقلوب في يد الله هو المتصرف فيها والمقبل بها والمدبر بها, فمن أراد سعادته والفوز بثواب هذه الياقوتة الفريدة جذب قلبه الى التصديق بما سمعه فيها وعرفه التسليم لفضل الله سبحانه بأنه لا يأخذه الحد والقياس فصرف همته الى التوجه الى الله تعالى بها والاقبال على الله بشأنها (فلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ)، ومن أراد الله حرمانه من خيرها صرف قلبه بالوسوسة وبقوله من أين يأتي خبرها, واشتغل بما قلناه لك ومن أطاعك في ذلك وأعرض عن مناقشتك في البحث بتحقيق ذلك فانا أخذناه من الوجه الذي تعلمه وكفى.”



يقول العلامة سيدي أحمد سكيرج رضي الله عنه ﻔﻲالجواهر المنتشرة في الجواب عن الأسئلة الإحدى عشرة : صلاة الفاتح ضامنة لخير الدنيا و الآخرة لمن التزم دوامها لكن بالإذن الصحيح و مرتبتها الظاهرة هي لكل من ظفر بها حاصل بالإذن و بلا إذن، لأن صاحبها سيدي البكري أخبر عن نفسه بأن من ذكرها مرة و دخل النار فليقبضه بين يدي الله، و ذكر من فضلها أن المرة الواحدة منها بستمائة ألف صلاة من غيرها. و قد بين الشيخ رضي الله عنه من هذه المرتبة ما لم يبينه غيره، و هو يحصل بحسب نية الذاكر، و قد لا يكون لذاكرها نية في تحصيل شيء من فضلها، فلا يكون صاحب خاصية، لأن الخاصية لا تدرك إلا بنية صادقة مصدقة، و إلا كان العمل كعمل مطلق الناس في نيل مطلق الثواب، أما المرتبة الباطنة و باطنة الباطنة فلا بد من الإذن في كل واحدة منهما ومعرفة الفضل المنوط بها، لأنه بعلم الفضل تحصل المرتبة الفضيلة، و بهذا تميزت فضيلة العالم في العبادة… و لا ينبغي أن يتصدر لتلقين هذه الصلاة من لا إذن له في مرتبة من مراتبها. و ليس له أيضا إذن في تلقينها بنية ذلك، و إلا فقد خاطر بنفسه في ادعاء مالا إذن له فيه، فيكون من المحرومين.” و يقول العلامة ﻔﻲ الرسائل: “هذا و إن الحق تعالى لما علم عجز خلقه عن أداء حق حمده حمد نفسه بنفسه في سابق أزله، فقال الحمدلله، فكذلك يقال في الصلاة على النبي صلى الله عليه و سلم، فإن الحق تعالى صلى على نبيه بنفسه في سابق أزله، فالمصلي بصلاة الفاتح يطلب منه أن يصلي على نبيه بتلك الصلاة، لأنها هي الفاتح التي لم تتقدم قبلها الصلاة عليه، و ليس المقصود بها لفظ صلاة الفاتح لما أغلق، بل حتى أن المصلي إذا صلى بغير هذه الصلاة واستحضر هذا المعنى فإنه يحصل على فضل عظيم، بما يستفاد منه إظهار العجز الحقيقي في أداء حق هذا النبي الكريم عليه السلام إلا أن صلاة الفاتح لما أغلق فيها خاصية مرتبطة بهذا المعنى، بحيث إذا استحضره المأذون له فيها واعتقد أنها برزت من حضرة الغيب فاز بالثواب المنوط بها إن شاء الله تعالى.” و يقول العلامة سيدي أحمد سكيرج رضي الله عنه ﻔﻲ رفع النقاب بعد كشف الحجاب عمن تلاقى مع الشيخ التجاني من الاصحاب: “ما ذكره شيخنا رضي الله عنه أنه قال من مكفرات الذنوب الصلاة على رسول الله صلى الله عليه و سلم ليلة الجمعة ثمانين مرة بصلاة الفاتح لما أغلق إلخ لمن يحفظها و بغيرها لمن لم يحفظها فإنها تكفر ذنوب مائتي سنة بالتثنية متقدمة و مائتي سنة كذلك متأخرة و ما دمتم تقدرون على صلاة الفاتح لما أغلق فلا تؤثرون عليها شيئا في تكفير الذنوب و لو مرة واحدة فتستغرق ذنوب العبد في جميع عمره و تزيد عليه أضعافا مضاعفة و لو أتى بجميع ذنوب العباد استغرقتها مرة واحدة من صلاة الفاتح لما أغلق ذلك فضل الله يؤتيه من يشاء.”

دعاء خاص مُخَلِّل لصلاة الفاتح لما أغلق
يقول العلامة سيدي أحمد سكيرج رضي الله عنه ﻔﻲ كتاب رياض السلوان بمن اجتمعت به من الإخوان: و منهم الحاج الغالي بن المعلم السيد المختار بن الحاج حمادي لحلو… خلل صلاة الفاتح بهذه الكيفية قال: اللهم إني أسألك بجاه اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق، افتح لي أبواب الرضى و التيسير، و أغلق عني أبواب الشر و التعسير، و بحق الخاتم لما سبق اختم علي بالفتح الأكبر، بحضور سيدنا محمد صلى الله عليه و سلم في أحب الساعة إليك، و تول قبض روحي بيدك، و أنا ساجد لك، و أنت راض علي يوم قدومي عليك، باحتفال ملائكتك المقربين، و أنبيائك و المرسلين، و جميع عبادك الصالحين، و اجعلني من خاصة المحبوبين لديك، الذين يذكرون الله قياما و قعودا، و على جنوبهم في حياتهم و في قبورهم يتلذذون برحمتك، و يتأنسون بكرمك، و يقولون: “الحمد لله الذي أذهب عنا الحزن إن ربنا لغفور شكور”، و بحق ناصر الحق بالحق انصرني على جميع خلقك، و اغفر لي ما ضيعت من حقك، و يسر لي أسباب رزقك، بحق اسمك الهادي الرشيد، و جاه اسم حبيبك سيدنا محمد الهادي إلى صراطك المستقيم، و على آله حق قدره و مقداره العظيم…. و قد توفي و هو ساجد يوم الخميس 21 رمضان عام 1341هـ، و دفن بالقباب بروضتهم، رحم الله الجميع.”.

فوائد الصلاة على رسول الله صلى الله عليه و سلم


يقول العلامة العارف بالله سيدي أحمد سكيرج رضي الله عنه ﻔﻲ رفع النقاب بعد كشف الحجاب عمن تلاقى مع الشيخ التجاني من الاصحاب: “نذكر لك يا أخي جملة منها تشويقا لك لعل الله تعالى أن يرزقني و إياك محبته الخاصة و يصير شغلك في أكثر الأوقات الصلاة على رسول الله صلى الله عليه و سلم و تصير تهدي ثواب كل عمل عملته في صفيحة رسول الله صلى الله عليه و سلم كما أشار إليه خبر كعب بن أبي عجرة إني أجعل لك صلاتي كلها أي أجعل لك ثواب أعمالي فقال له صلى الله عليه و سلم إذن يكفيك الله هم دنياك و آخرتك فمن ذلك ما ذكره ابن فرحون القرطبي قال اعلم أن في الصلاة على رسول الله صلى الله عليه و سلم عشر كرامات إحداها و هي أهمها صلاة الملك الجبار و الثانية شفاعة النبي المختار و الثالثة الاقتداء بالملائكة الأبرار و الرابعة مخالفة المنافقين و الكفار و الخامسة محو الخطايا و الأوزار و السادسة عون على قضاء الحوائج و الأوطار و السابعة تنوير الظاهر و الأسرار و الثامنة النجاة من دار البوار و التاسعة دخول دار القرار و العاشرة سلام العزيز الغفار و منها ما ذكره الحضرمي قال أنها سلم و معارج و سلوك إلى الله تعالى إذا لم يجد الطالب شيخا مرشدا و قال تلميذه الشيخ زروق إن الصلاة عليه ترفع همة المتوجه و إن كان في مقام التخليط لأن ذكره كله نور و هدى و قال ابن عباد إن الصلاة عليه تؤثر تقوية اليقين و قال السنوني من فقد شيخ التربية فليكثر من الصلاة عليه صلى الله عليه و سلم فإنه يصل إلى الفتح المبين و قال بعضهم إن الصلاة عليه قرءان القرءان و فرقان الفرقان و قال بعضهم إن الصلاة عليه تفتح لصاحبها شهود الذات و حقائق الصفات و قال الحافظ ابن حجران الصلاة عليه تفتح من كيمياء السعادة أبوابا لا يفتحها غيرها و تفتح من مزايا الزيادة ما لا ينقطع على المصلي سيرها و أنها توصل إلى كافة المؤنة الدنيوية و الأخروية و تمنح اللحظات المحمدية و التجليات الاستفاضية و قال الرصاع إن الرحمة تحيط بالمصلي و من أحاطت به الرحمة كيف لا تجاب الدعوة له و قال أيضا إذا كان الدعاء مقبولا عند كثير من الصالحين فكيف بذكر من هو لجميع العارفين قدوة و قال بعض شيوخ الطريق لا يزال أحدنا يكثر الصلاة عليه حتى يصير يشاهده في اليقظة و النوم و يسأله عما يشكل في قلب المصلي عليه نورا و قد سماه الله نورا و سراجا منيرا و قال الخروبي المصلي عليه ممتثل لأمر الله و القيام بالأمر ذكر و المصلي عليه يناجي ربه و المناجاة ذكر و أيضا الصلاة على النبي صلى الله عليه و سلم لا بد أن تكون مقرونة بإسم من أسماء الله أو صفة من صفاته و إمرار ذلك على اللسان ذكر و هذه الأوجه الثلاثة تكون لكل مصل عليه صلى الله عليه و سلم من الخصوص و العموم و وجه رابع لخواص المصلين عليه صلى الله عليه و سلم و هو استحضار صورته و صفاته العظيمة و منها ما ذكره شيخنا رضي الله عنه أنه قال من مكفرات الذنوب الصلاة على رسول الله صلى الله عليه و سلم ليلة الجمعة ثمانين مرة بصلاة الفاتح لما أغلق إلخ لمن يحفظها و بغيرها لمن لم يحفظها فإنها تكفر ذنوب مائتي سنة بالتثنية متقدمة و مائتي سنة كذلك متأخرة و ما دمتم تقدرون على صلاة الفاتح لما أغلق فلا تؤثرون عليها شيئا في تكفير الذنوب و لو مرة واحدة فتستغرق ذنوب العبد في جميع عمره و تزيد عليه أضعافا مضاعفة و لو أتى بجميع ذنوب العباد استغرقتها مرة واحدة من صلاة الفاتح لما أغلق ذلك فضل الله يؤتيه من يشاء فإذا كانت هذه الخصال العظيمة في الصلاة على النبي صلى الله عليه و سلم فالواجب على العبد أن يعكف على الصلاة عليه صلى الله عليه و سلم و يجعلها هجيراه ءاناء الليل و أطراف النهار و يجعلها محبة فيه و لا يقصد بها سوى محبته صلى الله عليه و سلم و إجلالا و تعظيما و توقيرا و قدره أهل لذلك صلى الله عليه و سلم. قال بعضهم لا يتوهم المصلي على النبي صلى الله عليه و سلم أن صلاتنا عليه شفاعة منا له عند الله تعالى في زيادة رفعته و بلوغ أمنيته فإن مثلنا لا يشفع لعظيم القدر عند ربه و لكن الله سبحانه أمرنا بمكافأة من أحسن إلينا و أنعم علينا و لما أحسن إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم إحسانا لم يحسن أحد إلينا مثله و لا أكرمنا مخلوق مثل إكرامه و كنا عاجزين عن مكافأة سيد المرسلين و حبيب رب العالمين أمرنا ربنا سبحانه و تعالى أن نرغب إليه أن يصلي هو عليه لتكون صلاة مولانا عليه مكافأة له منه سبحانه لإحسانه إلينا و أفضاله علينا إذ لا إحسان أفضل من إحسانه إلا إحسان خالقه المنعم ببعثته رحمة إلى خلقه صلى الله عليه و سلم. قال ابن عطاء الله في كتابه تاج العروس و من قارب فراغ عمره و يريد أن يستدرك ما فاته فليذكر بالأذكار الجامعة فإنه إذا فعل ذلك صار العمر القصير طويلا قال و من فاته كثرة القيام و الصيام فليشغل نفسه بالصلاة على رسول الله صلى الله عليه و سلم فإنك لو فعلت في عمرك كل طاعة ثم صلى الله عليك صلاة واحدة رجحت تلك الصلاة الواحدة بكل ما عملت في عمرك كله من جميع الطاعات لأنك تصلي على قدر وسعك و هو سبحانه يصلي على حسب ربوبيته هذا إذا كانت صلاة واحدة فكيف إذا صلى عليك عشرا بكل صلاة كما في الحديث فما أحسن العيش إذا أطعت الله فيه بذكر الله أو صلاة على رسول الله صلى الله عليه و سلم انبسط جاهه صلى الله عليه و سلم حتى بلغ المصلي عليه لهذا القدر العظيم و إلا فمتى كان يصلي الله عليك. و في بغية السالك للساحلي أن من أعظم الثمرات و أجل الفوائد المكتسبات بالصلاة عليه صلى الله عليه و سلم انطباع صورته الكريمة في النفس انطباعا ثابتا متصلا متأصلا و ذلك بالمداومة على الصلاة عليه بإخلاص القصد و تحصيل الشروط و الآداب و تدبر المعاني حتى يتمكن فيه من الباطن تمكنا صادقا خالصا يصل بين نفس الذاكر و نفس النبي صلى الله عليه و سلم و يؤلف بينهما في محل القرب و الصفا تأليفا بحسب تمكن النفس فالمرء مع من أحب و الحب يوجب الاتباع للمحبوب و الاتباع يؤذن بالوصال و لنقصر العنان و لا طاقة باستقصاء البيان و قد رغبتك يا أخي بذكر بعض فضائلها تشويقا إليك و محبة في النبي صلى الله عليه و سلم.”

معنى الحمد و الصلاة على النبي صلى الله عليه و سلم
يقول العلامة العارف بالله سيدي أحمد سكيرج رضي الله عنه ﻔﻲ الرسائل: “قال السري السقطي لابن أخته الجنيد حين قال له: ما الشكر يا غلام؟ فقال فيه: هو أن لا يعصى الله تعالى بنعمه، فقال له السري: أخشى عليك أن يكون حظك من الله لسانك، فنرجو من الله أن لا يؤاخذنا بعدم إخلاصنا”. و يقول العلامة ﻔﻲ كتاب الكوكب الوهاج بتصرف: ” لقد امتن الله على الإنسان بحفظه كما امتن بتخصيصه بسابق الفضل و الإحسان و بأي سبب استحق العبد هذه النعمة حيث أعطيها يوم قدرت المقادير و قسمت القِسَم حيث لا وجود لذاته هناك و لا عمل يتقرب به إلى معطيها و لا شيء يدلي به و يستند إليه بل هو محض الجود و الامتنان و الفضل و الإحسان و لو شعر الإنسان بهذه النعمة العظمى و عرفها لاستغرقه الفرح بالله و لاستولى عليه سلطان المحبة و الشغف بهذا المعطي الكريم و المولى العظيم الذي خلق فهدى و تفضل و أعطى و خصص أزلا و اجتبى و لا يزال… و إن تعدوا نعمة الله لا تحصوها، و الناس كلهم غرقى في بحر النعم إلا أنهم لا يشكرون و قليل من عبادي الشكور و إذا أراد الله بعبد خيرا و أن يجعله من خواص عباده عرَّفه ما عليه من النعم و ألهمه شكرها و لم يزد شيئا على ذلك يكون به مخصوصا فكل الناس منعم عليه و المخصوص من شاهدها… فالشكر باب الله الأعظم و صراطه الأقوم و لهذا قعد الشيطان بسبيله يصد عنه المؤمنين … و أقرب الأبواب إلى الله تعالى باب الشكر و من لم يدخل في هذا الزمان منه لم يدخل لأن النفوس قد غلظت يعني فلا تتأثر برياضة و لا بطاعة و لا تنزجر بمحاسبة و لا بمناقشة فإذا استغرقها الفرح بالمنعم غابت عن ذلك كله و طوت مسافتها و كل و عد في كلام الله تجده مقرونا بالمشيئة إلا الشكر فقال تعالى “لئن شكرتم لأزيدنكم” و أكده بلام القسم و نون التوكيد … و انظر كيف قدم الله الشكر على الإيمان اعتناء بشأنه فقال ما يفعل الله بعذابكم إن شكرتم و آمنتم… فالإيمان هو الفرح بالمنعم ، والفرح الذي هو شكر القلب إيمان و لا إشكال إن الإيمان لا يكون حقيقيا إلا معه إذ هو نتيجته و لازمه، و قد يكون العطف في الآية للتفسير فيؤخذ منها ما قاله رضي الله عنه (أي سيدي أحمد التجاني رضي الله عنه) من أن الإيمان هو الشكر و لو عرف الإنسان حقيقة الشكر لملئ قلبه و طار عقله محبة في الله و سرورا و فرحا و حبورًا.ه. فإذا تحقق العاقل بأن النعم التي عليه من الله كما قال تعالى: “و ما بكم من نعمة فمن الله”ه فلا بد من أن تحصل له المحبة فيه تعالى كما قال صلى الله عليه و سلم جبلت القلوب على حب من أحسن إليها فإذا تمكن الإنسان في مقام المحبة استحسن كل شيء وقع من المحبوب كما قال صلى الله عليه و سلم حبك الشيء يعمي و يصم… و قد قام صلى الله عليه و سلم في مصلاه حتى تورَّمت قدماه الشريفتان فقيل أتتكلف هذا، و قد غفر الله لك ما تقدم من ذنبك و ما تأخر، فقال صلى الله عليه و سلم أفلا أكون عبدا شكورا، و في الحقيقة أن في طي النقم النعم كما قال سيدنا عمر رضي الله عنه: ما أصابني الله تعالى بمصيبة إلا رأيت لله علي في ذلك ثلاث نِعَم: الواحدة حيث لم تكن في ديني، الثانية حيث لم تكن أكبر منها، النعمة الثالثة ما وعد الله من الثواب عليها و لذلك كان صلى الله عليه و سلم يقول اللهم لا أحصي ثناء عليك أنت كما أثنيت على نفسك و قال تعالى و إن تعدوا نعمة الله لا تحصوها و يرحم الله بعض العارفين حيث قال:



سبحان من لو سجدنا بالعيون له *** على شفا الشوك و المحمى من الإبر
لم نبلغ العشر من معشار نعمتـه *** و لا العشيـــر و لا عشرا من العشـر



كيف لا و شكرنا نعمة منه علينا و قد روي أن نبي الله داوود عليه السلام قال إلاهي كيف أشكر و شكري لك نعمة من عندك فأوحى الله إليه الآن شكرتني و في رواية أبي عمر الشيباني قال موسى عليه الصلاة و السلام يوم الطور يا رب إن أنا صلَّيت فمِن قِبَلِك و إن أنا تصدَّقت فمن قبلك و إن أنا بلغت رسالتك فمن قبلك فكيف أشكرك قال يا موسى الآن شكرتني و في لفظ إذا عرفت أن النعم مني فقد رضيت بذلك منك شكرا و يرحم الله محمود الوراق إذ قال:



إذا كان شكري نعمة الله نعمـــة *** علـيَّ بها فــــي مثـلــها يجب الشكــر
فكيف بلوغ الشكر إلا بفضلــــه *** و إن طالــــت الأيام و اتَّصل العمــر
إذا مسَّ بالسراء عم سرورهـــا *** و إن مس بالضــراء يعقبهــا الأجـــر
فما منها إلا له فيه نعمــــــةٌ *** تضيق بها الأوهام و السر و الجهر



و قد قال بعض العارفين كلما تذكرت أني عبدالله و أنه أهَّلني للإيمان و الإيقان زاد سمني”. وﻔﻲ الرسائل: “قال أبو الليث السمرقندي رحمه الله إذا أردت أن تعرف أن الصلاة على النبي صلى الله عليه و سلم أفضل من سائر العبادات فانظر قوله تعالى إن الله و ملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه و سلموا تسليما، فأمر الله تعالى عباده بسائر العبادات و صلى عليه بنفسه أولا و أمر الملائكة بالصلاة عليه صلى الله عليه و سلم ثم أمر المؤمنين بأن يصلوا عليه. (…) و في صحيح مسلم عن عبدالله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما أنه سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول: “من صلى عَلَيَّ صلاةً صلى الله عليه بها عشرا”ه فلو عملت في عمرك كل طاعة ثم صلى الله عليك صلاة واحدة رجحت تلك الصلاة الواحدة على ما عملت في عمرك من جميع الطاعات لأنك تصلي على حسب وسعك و هو يصلي على حسب وسعه و أنت تصلي على حسب عبوديتك و هو يصلي على حسب ربوبيته هذا إذا كانت صلاة واحدة فكيف إذا صلى عليك عشرا بكل صلاة… (من كتاب الكوكب الوهاج).”

مواطن الصلاة عليه صلى الله عليه و سلم
يقول العلامة العارف بالله سيدي أحمد سكيرج رضي الله عنه: “إن صلصيايل عليه السلام هو الملك الموكل بالتقاط الصلاة على النبي صلى الله عليه و سلم فإن كانت مقبولة يبلغها للنبي صلى الله عليه و سلم و يسمى صاحبها و إلا بلغها له من غير تسميته بل يقول له: هذه صلاة صليت عليك في هذا الوقت و لا يزيد شيئا (ج أحمد بن العياشي سكيرج، كشف الحجاب عمن تلاقى مع الشيخ التجاني من الاصحاب ، ص115). و شروط القبول: هي أن يذكرها على طهارة في موضع طاهر و أن لا يقطعها بكلام أجنبي و بعدم الحضور رأسا. و لكي تسمى مكثرا للصلاة عليه صلى الله عليه و سلم يجب أن تصدر منك (أي الصلاة على النبي صلى الله عليه و سلم) امتثالا لأمر الله و إجلالا و تعظيما للنبي صلى الله عليه و سلم و محبة فيه مع استحضار بعض أوصافه الحسنة و تلمح صورته الشريفة كأنك بين يديه، ثم تنطق بالصلاة عليه صلى الله عليه و سلم بحضور و خشوع و تأدب، فإذا صدرت منك على هذا الوصف الأكمل و لو مرة في اليوم صرت مكثرا للصلاة عليه، و من ذلك قول سيدي الدمراوي رضي الله عنه إن كل من صلى على النبي صلى الله عليه و سلم 10مرات في كل وقت من الخمسة أوقات و زاد 10في نصف الليل متصلة بعضها ببعض استوجب الأمان من سخط الله تعالى و يحصل هذا الخير العظيم في كل صيغة من صيغ الصلاة حتى لو قال “اللهم صل على سيدنا محمد و على آله”ه مستحضرا لشروط القبول حصلت له هذه الخصلة العظيمة و الفائدة الجسيمة.”.


و يقول العلامة سيدي أحمد سكيرج رضي الله عنه في كتاب الكوكب الوهاج: “قال صلى الله عليه و سلم أكثروا من الصلاة علي يوم السبت فإن اليهود تكثر من سبي فمن صلى علي فيه مائة مرة فقد أعتق نفسه من النار و حلَّت له الشفاعة  فيشفع يوم القيامة فيمن أحب.  و من مواطن الصلاة عليه صلى الله عليه و سلم عند العطاس لما روى عنه صلى الله عليه و سلم أنه قال من عطس فقال الحمد لله رب العالمين على كل حال ما كان من حال و صلى الله على سيدنا محمد و أهل بيته، أخرج الله من منخره الأيسر طائرا أكبر من الذباب و أصغر من الجراد يرفرف تحت العرش يقول اللهم اغفر لقائله.”

MACAM MACAN THORIQOH

Blog Entry Macam-Macam Tarekat Sep 11, ‘08 10:30 AM
for everyone


Jumlah Tarekat sangat banyak, akan tetapi yang memiliki anggota yang cukup banyak tersebar di banyak negara di seluruh dunia sampai kini ada tujuh, yaitu:

1.  Tarekat Khalawatiyah
2.  Tarekat Naksyabandiyah
3.  Tarekat Qadiriyah
4.  Tarekat Rifa’yah
5.  Tarekat Sammaniyah
6.  Tarekat Syaziliyah
7.  Tarekat Tijaniyah

1.  Tarekat Khalawatiyah

Cabang dari Tarekat Aqidah Suhrardiyah yang didirikan di Baghdat oleh Abdul Qadir Suhrawardi dan Umar Suhrawardi. Mereka menamakan diri golongan Siddiqiyah karena mengklaim sebagai keturunan kahlifah Abu Bakar r.a. Khalawatiyah ini didirikan di Khurasan oleh Zahiruddin dan berhasil berkembang sampai ke Turki. Tidak mengherankan jika Tarekat Khalawatiyah ini banyak cabangnya antara lain; Tarekat Dhaifiyah di Mesir dan di Somalia dengan nama Salihiyah.

Tarekat Khalawatiyah ini membagi manusia menjadi tujuh tingkatan:

a.  Manusia yang berada dalam nafsul ammarah
Mereka yang jahil, kikir, angkuh, sombong, pemarah, gemar kepada kejahatan, dipengaruhi syahwat dan sifat-sifat tercela lainnya. Mereka ini bisa membebaskan diri dari semua sifat-sifat tidak terpuji tersebut dengan jalan memperbanyak zikir kepada Allah SWT dan mengurangi makan-minum.
Maqam mereka adalah aghyar, artinya kegelap-gulitaan.

b.  Manusia yang berada dalam nafsul lawwamah
Mereka yang gemar dalam mujahaddah (meninggalkan perbuatan buruk) dan berbuat saleh, namun masih suka bermegah-megahan dan suka pamer. Cara untuk melenyapkan sifat-sifat buruk tersebut adalah mengurangi makan-minum, mengurangi tidur, mengurangi bicara, sering menyendiri dan memperbanyak zikir serta berpikir yang baik-baik.
Maqam mereka adalah anwar, artinya cahaya yang bersinar.

c.  Manusia yang berada dalam nafsul mulhamah
Mereka yang kuat mujahaddah dan tajrid, karena ia telah menemui isyarat-isyarat tauhid, namun belum mampu melepaskan diri dari hukum-hukum manusia. Cara untuk melepaskan kekurangannya adalah dengan jalan menyibukkan batinnya dalam Hakikat Iman dan menyibukkan diri dalam Syari’at Islam.
Maqam mereka adalah kamal, artinya kesempurnaan.

d.  Manusia yang berada dalam nafsul muthma’innah
Mereka yang tidak sedikit pun meninggalkan ajaran Islam, mereka merasa nyaman jika berakhlak seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan merasa belum tentram hatinya jika belum mengikuti petunjuk dan sabda Beliau.
Manusia seperti ini sangat menyenangkan siapa pun yang melihatnya dan mengajaknya berbicara.

e.  Manusia yang berada dalam nafsul radhiyah
Mereka yang sudah tidak menggantungkan diri kepada sesama manusia, melainkan hanya kepada Allah SWT. Mereka umumnya sudah melepaskan sifat-sifat manusia biasa.
Maqam mereka adalah wisal, artinya sampai dan berhubungan.

f.  Manusia yang berada dalam nafsul mardhiyah
Mereka yang telah berhasil meleburkan dirinya ke dalam kecintaan khalik dan khalak, tidak ada penyelewengan dalam syuhudnya. Ia menepati segala janji Tuhan dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya.
Maqam mereka adalah tajalli af’al, artinya kelihatan Tuhan.

g.  Manusia yang berada dalam nafsul kamillah
Mereka yang dalam beribadah menyertakan badannya, lidahnya, hatinya dan anggota-anggota tubuhnya yang lain. Mereka ini banyak beristighfar, banyak ber-tawadhu’ (rendah hati atau tidak suka menyombongkan diri). Kesenangan dan kegemarannya adalah dalam tawajjuh khalak.
Maqam mereka adalah tajalli sifat, artinya tampak nyata segala sifat Tuhan.

2.

Tarekat Naksyabandiyah

Pendiri Tarekat Naksyabandiyah ialah Muhammad bin Baha’uddin Al-Huwaisi Al Bukhari (717-791 H). Ulama sufi yang lahir di desa Hinduwan – kemudian terkenal dengan Arifan, beberapa kilometer dari Bukhara. Pendiri Tarekat Naksyabandiyah ini juga dikenal dengan nama Naksyabandi yang berarti lukisan, karena ia ahli dalam memberikan gambaran kehidupan yang ghaib-ghaib. Kata ‘Uwais’ ada pada namanya, karena ia ada hubungan nenek dengan Uwais Al-Qarni, lalu mendapat pendidikan kerohanian dari wali besar Abdul Khalik Al-Khujdawani yang juga murid Uwais dan menimba ilmu Tasawuf kepada ulama yang ternama kala itu, Muhammad Baba Al-Sammasi.

Tarekat Naksyabandiyah mengajarkan zikir-zikir yang sangat sederhana, namun lebih mengutamakan zikir dalam hati daripada zikir dengan lisan.

Ada enam dasar yang dipakai sebagai pegangan untuk mencapai tujuan dalam Tarekat ini, yaitu:

a.  Tobat

b.  Uzla  (Mengasingkan diri dari masyarakat ramai yang dianggapnya telah mengingkari ajaran-ajaran Allah dan beragam kemaksiatan, sebab ia tidak mampu memperbaikinya)

c.  Zuhud (Memanfaatkan dunia untuk keperluan hidup seperlunya saja)

d.  Taqwa

e.  Qanaah (Menerima dengan senang hati segala sesuatu yang dianugerahkan oleh Allah SWT)

f.  Taslim (Kepatuhan batiniah akan keyakinan qalbu hanya pada Allah)

Hukum yang dijadikan pegangan dalam Tarekat Naksyabandiyah ini juga ada enam, yaitu:

a.  Zikir

b.  Meninggalkan hawa nafsu

c.  Meninggalkan kesenangan duniawi

d.  Melaksanakan segenap ajaran agama dengan sungguh-sungguh

e.  Senantiasa berbuat baik (ihsan) kepada makhluk Allah SWT

f.  Mengerjakan amal kebaikan

3.  Tarekat Qadiriyah

Pendiri Tarekat Qadiriyah adalah Syeikh Abduk Qadir Jailani, seorang ulama yang zahid, pengikut mazhab Hambali. Ia mempunyai sebuah sekolah untuk melakukan suluk dan latihan-latihan kesufian di Baghdad. Pengembangan dan penyebaran Tarekat ini didukung oleh anak-anaknya antara lain Ibrahim dan Abdul Salam. Sebagaimana Tarekat yang lain, Qadiriyah juga memiliki dan mengamalkan zikir dan wirid tertentu.

Sejak kecil, Syeikh Abdul Qadir telah menunjukkan tanda-tanda sebagai Waliyullah yang besar. Ia adalah anak yang sangat berbakti pada orang tua, jujur, gemar belajar dan beramal serta menyayangi fakir miskin dan selalu menjauhi hal0hal yang bersifat maksiat. Ia memang lahir dan dididik dalam keluarga yang taat karena ibunya yang bernama Fatimah dan kakeknya Abdullah Sum’i adalah wali Allah SWT.

Syeikh Abdul Qadir Jailani dikaruniai oleh Allah SWT keramat sejak masih muda, sekitar usia 18 tahun. Dikisahkan dalam manaqib (biografi) beliau bahwa ketika ia akan membajak sawah, sapi yang menarik bajak mengatakan kepadanya, “Engkau dilahirkan ke dunia bukan untuk kerja begini.” Peristiwa yang mengejutkan ini mendorongnya untuk bergegas pulang. Ketika ia naik ke aatas atap rumah, mata batinnya melihat dengan jelas suatu majelis yang sangat besar di Padang Arafah. Setelah itu ia memohojn kepada ibunya agar membaktikan dirinya kepada Allah SWT dan berkenan mengirimkannya ke kota Baghdad yang kala itu menjadi pusat ilmu pengetahuan yang terkenal bagi kaum muslimin. Dengan sangat berat hati ibunya pun mengabulkannya.

Suatu hari bergabunglah Abdul Qadir Jailani dengan kafilah yang menuju Baghdad. Ketika hampir sampai di tujuan, kafilah ini dikepung oleh sekawanan perampok. Semua harta benda milik kafilah dirampas, kecuali bekal yang dibawa oleh Abdul Qadir Jailani. Salah seorang kawanan perampok kemudian mendatanginya dan bertanya, “Apa yang engkau bawa?” Dengan jujur Abdul Qadir Jailani menjawab, “Uang empat puluh dinar.”

Perampok itu membawa Abdul Qadir Jailani menghadap pimpinannya dan menceritakan tentang uang empat puluh dinar. Pemimpin perampok itu pun segera meminta uang yang empat puluh dinar tadi, namun ia merasa terpesona oleh kepribadian Abdul Qadir Jailani. “Mengapa engkau berkata jujur tentang uang ini?” Dengan tenang Abdul Qadir Jailani, “Saya telah berjanji kepada ibu untuk tidak berbohong kepada siapapun dan dalam keadaan apapun.

Seketika pemimpin perampok tersebut terperangah, sejenak kemudian ia menangis dan menyesali segala perbuatan zalimnya. “Mengapa saya berani terus-menerus melanggar peraturan Tuhan, sedangkan pemuda ini melanggar janji pada ibunya sendiri saja tidak berani.” Ia kemudian memerintahkan semua barang rampasan kepada pemiliknya masing-masing dan sejak itu berjanji untuk mencari rezeki dengan jalan yang halal.

Semasa Abdul Qadir Jailani masih hidup, Tarekat Qadiriyah sudah berkembang ke beberapa penjuru dunia, antara lain ke Yaman yang disiarkan oleh Ali bin Al-Haddad, di Syiria oleh Muhammad Batha’, di Mesir oleh Muhammad bin Abdus Samad serta di Maroko, Turkestan dan India yang dilakukan oleh anak-anaknya sendiri. Mereka sangat berjasa dalam menyempurnakan Tarekat Qadiriyah. Mereka pula yang menjadikan tarekat ini sebagai gerakan yang mengumpulkan dan menyalurkan dana untuk keperluan amal sosial.

4.  Tarekat Rifa’yah

Pendirinya Tarekat Rifaiyah adalah Abul Abbas Ahmad bin Ali Ar-Rifai. Ia lahir di Qaryah Hasan, dekat Basrah pada tahun 500 H (1106 M), sedangkan sumber lain mengatakan ia lahir pada tahun 512 H (1118 M). Sewaktu Ahmad berusia tujuh tahun, ayahnya meninggal dunia. Ia lalu diasuh pamannya, Mansur Al-Batha’ihi, seorang syeikh Trarekat. Selain menuntut ilmu pada pamannya tersebut ia juga berguru pada pamannya yang lain, Abu Al-Fadl Ali Al Wasiti, terutama tentang Mazhab Fiqh Imam Syafi’i. Dalam usia 21 tahun, ia telah berhasil memperoleh ijazah dari pamannya dan khirqah 9 sebagai pertanda sudah mendapat wewenang untuk mengajar.

Ciri khas Tarekat Rifaiyah ini adalah pelaksanaan zikirnya yang dilakukan bersama-sama diiringi oleh suara gendang yang bertalu-talu. Zikir tersebut dilakukannya sampai mencapai suatu keadaan dimana mereka dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang menakjubkan, antara lain berguling-guling dalam bara api, namun tidak terbakar sedikit pun dan tidak mempan oleh senjata tajam.

5.  Tarekat Sammaniyah

Kemunculan Tarekat Sammaniyah bermula dari kegiatan Syeikh Muhammad Saman, seorang guru masyhur yang mengajarkan Tarekat di Madinah. Banyak orang Indonesia terutama dari Aceh yang pergi ke sana mengikuti pengajarannya. Oleh sebab itu tidak mengherankan jika Tarekat ini tersebar luas di Aceh dan terkenal dengan nama Tarekat Sammaniyah.

Sebagaimana guru-guru besar Tasawuf, Syeikh Muhammad Saman terkenal akan kesalehan, kezuhudan dan kekeramatannya. Salah satu keramatnya adalah ketika Abdullah Al-Basri  – karena melakukan kesalahan – dipenjarakan di Mekkah dengan kaki dan leher di rantai. Dalam keadaan yang tersiksa, Al-Basri menyebut nama Syeikh Muhammad Saman tiga kali, seketika terlepaslah rantai yang melilitnya. Kepada seorang murid Syeikh Muhammad Saman yang melihat kejadian tersebut, Al-Basri menceritakan, “kulihat Syeikh Muhammad Saman berdiri di depanku dan marah. Ketika kupandang wajahnya, tersungkurlah aku pingsan. Setelah siuman, kulihat rantai yang melilitku telah terputus.”

Perihal awal kegiatan Syeikh Muhammad Saman dalam Tarekat dan Hakikat, menurut Kitab Manaqib Tuan Syeikh Muhammad Saman, adalah sejak pertemuannya dengan Syeikh Abdul Qadir Jailani. Kisahnya, di suatu ketika Syeikh Muhammad Saman berkhalwat (bertapa) di suatu tempat dengan memakai pakaian yang indah-indah. Pada waktu itu datang Syeikh Abdul Qadir Jailani membawakan pakaian jubah putih. “Ini pakaian yang cocok untukmu.” Ia kemudian memerintahkan Syeikh Muhammad Saman agar melepas pakaiannya dan mengenakan jubah putih yang dibawanya. Konon semula Syeikh Muhammad Saman menutup-nutupi ilmunya sampai datanglah perintah dari Rasulullah SAW menyebarkannya dalam kota Madinah.

Tarekat Sammaniyah juga mewiridkan bacaan zikir yang biasanya dilakukan secara bersama-sama pada Malam Jum’at di masjid-masjid atau mushalla sampai jauh tengah malam. Selain itu ibadah yang diamalkan oleh Syeikh Muhammad Saman yang diikuti oleh murid-muridnya sebagai Tarekat antara lain adalah shalat sunnah Asyraq dua raka’at, shalat sunnah Dhuha dua belas raka’at, memperbanyak riadhah (melatih diri lahir batin untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT) dan menjauhkan diri dari kesenangan duniawi.

6.  Tarekat Syaziliyah

Pendiri Tarekat Syaziliyah adalah Abdul Hasan Ali Asy-Syazili, seorang ulama dan sufi besar. Menurut silsilahnya, ia masih keturunan Hasan, putra Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Rasulullah SAW. Ia dilahirkan pada 573 H di suatu desa kecil di kawasan Maghribi. Tentang arti kata “Syazili” pada namanya yang banyak dipertanyakan orang kepadanya, konon ia pernah menanyakannya kepada Tuhan dan Tuhan pun memberikan jawaban, “Ya Ali, Aku tidak memberimu nama Syazili, melainkan Syazz yang berarti jarang karena keistimewaanmu dalam berkhidmat kepada-Ku.

Ali Syazili terkenal sangat saleh dan alim, tutur katanya enak didengar dan mengandung kedalaman makna. Bahkan bentuk tubuh dan wajahnya, menurut orang-orang yang mengenalnya, konon mencerminkan keimanan dan keikhlasan. Sifat-sifat salehnya telah tampak sejak ia masih kecil. Apalagi setelah ia berguru pada dua ulama besar – Abu Abdullah bin Harazima dan Abdullah Abdussalam ibn Masjisy – yang sangat meneladani khalifah Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib.

Dalam jajaran sufi, Ali Syazili dianggap seorang wali yang keramat. Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa ia pernah mendatangi seorang guru untuk mempelajari suatu ilmu. Tanpa basa-basi sang guru mengatakan kepadanya, “Engkau mendapatkan ilmu dan petunjuk beramal dariku? Ketahuilah, sesungguhnya engkau adalah salah seorang guru ilmu-ilmu tentang dunia dan ilmu-ilmu tentang akhirat yang terbesar.” Kemudian pada suatu waktu, ketika ingin menanyakan tentang Ismul A’zam kepada gurunya, seketika ada seorang anak kecil datang kepadanya, “Mengapa engkau ingin menanyakan tentang Ismul A’zam kepada gurumu? Bukankah engkau tahu bahwa Ismul A’zam itu adalah engkau sendiri?”

Tarekat Syaziliyah merupakan Tarekat yang paling mudah pengamalannya. Dengan kata lain tidak membebani syarat-syarat yang berat kepada Syeikh Tarekat. Kepada mereka diharuskan:

a.  Meninggalkan segala perbuatan maksiat.

b.  Memelihara segala ibadah wajib, seperti shalat lima waktu, puasa Ramadhan dan lain-lain.

c.  Menunaikan ibadah-ibadah sunnah semampunya.

d.  Zikir kepada Allah SWT sebanyak mungkin atau minimal seribu kali dalam sehari semalam dan beristighfar sebanyak seratus kali sehari-semalam dan zikir-zikir yang lain.

e.  Membaca shalawat minimal seratus kali sehari-semalam dan zikir-zikir yang lain.

7.  Tarekat Tijaniyah

Pendiri Tarekat Tijaniyah ialah Abdul Abbas bin Muhammad bin Muchtar At-Tijani (1737-1738), seorang ulama Algeria yang lahir di ‘Ain Mahdi. Menurut sebuah riwayat, dari pihak bapaknya ia masih keturunan Hasan bin Ali bin Abu Thalib. Keistimewaannya adalah pada saat ia berumur tujuh tahun, Konon Tijani sudah menghapal Alqur’an, kemudian mempelajari pengetahuan Islam yang lain, sehingga ia menjadi guru dalam usia belia.

Ketika naik haji di Madinah, Tijani berkenalan dengan Muhammad bin Abdul Karim As-Samman, pendiri Tarekat Sammaniyah. Setelah itu ia mulai mempelajari ilmu-ilmu rahasia batin. Gurunya yang lain dalam bidang Tarekat ini ialah Abu Samghun As-Shalasah. Dari sinilah pandangan batinnya mulai terasah. Bahkan konon dalam keadaan terjaga ia bertemu Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan kepadanya beberapa wirid, istighfar dan shalawat yang masing-masing harus diucapkan seratus kali dalam sehari semalam. Selain itu Nabi Muhammad SAW juga memerintahkan agar Tijani mengajarkan wirid-wirid tersebut kepada semua orang yang menghendakinya.

Wirid-wirid yang harus diamalkan dalam Tarekat Tijaniyah sangat sederhana, yaitu terdiri dari istighfar seratus kali, shalawat seratus kali dan tahlil seratus kali. Semua wirid tersebut boleh diamalkan dua waktu sehari yaitu pagi setelah Shalat Shubuh dan sore setelah Shalat Ashar.



Sumber Tulisan:

  • Syamsul Rijal Hamid, Buku Pintar Agama Islam; Edisi Senior, Cetakan VIII,  Penebar Salam, Jakarta, September 2000
  • Abu Bakar Aceh, Pengantar Ilmu Tarekat; Kajian Historis tentang Mistik, Cetakan IX, Ramadhani, Solo, 1993

Sumber Ilustrasi:
Sufi Tariqat by studiovalentine.com